TUGIEZLAND

Kamis, 21 November 2013

Makan di Resto Saja, Yuk . . .


Bodohnya aku, kenapa kulempar segala hal tentangku pada para pemakan bangkai saudara itu? Tidakkah kulihat, bagaimana mereka dengan mudah menerima apa yang kuanggap sampah itu dan diolahnya dengan cepat menjadi sajian nan menggugah selera? Tidakkah apa yang kuceritakan itu, sungguh menjadi modal berharga bagi para pemakan bangkai yang melahap dengan rakus lalu memuntahkannya kembali untuk diolah lagi oleh pemakan bangkai lainnya?

Oh, duhai masa, aku hilang ketika aku berada dalam putaran zaman, antara yang lalu dengan yang kekinian. Mereka, wahai malam, terus saja menantiku menahan gejolak diri untuk segera membuang kata-kata dan laku ceroboh tentang keburukan dan kebaikan lalu mereka olah untuk menjadi hidangan sedap yang mereka bagikan pada teman-teman. Oh, bodohnya diriku.

Seorang teman seangkatan pernah menyurat, bahwa sungguh enak untuk membicarakan seseorang di kala orang itu tak bersama kita. Suratan itu dituliskannya saat ia merasa sungguh sering ia dipergunjingkan teman-temannya sendiri saat ia tak bersama mereka. Dan alasan kedua yang membuatnya menyurat seperti demikian,  adalah rasa penasaran kenapa teman-temannya selalu bermuka manis padanya saat ia bersama mereka,

Suratan dari teman seangkatanku itu memang tak kuhiraukan waktu itu. Ia kuanggap hanya sekedar gejolak hati, surat yang sentimentil bagi orang yang merasa ter’zdalimi. Aku hanya menganggap apa yang ingin disampaikannya itu terlalu emosional. Namun kini, oh waktu, aku menyadari betapa pentingnya suratan yang ia tulis itu untukku berhati-hati, setidaknya berhati-hati mengeluarkan kata-kata pada orang lain. Karena ketika kata-kata, sekalipun kau anggap hanya sampah dan tak berarti bagimu, bisa jadi akan menjadi sangat berharga bagi orang lain untuk disantap rakus, dan dipergunjingkan menjadi bola salju liar yang menerjang rumah-rumah penduduk di bawahnya tanpa mereka tahu sumber pasti darimana asal bola salju itu. 

Tapi, duhai sunyi, aku mungkin bisa bersyukur karena ternyata kata-kata yang kuanggap sampah sekalipun masih bisa dilahap, biarpun yang melahap para pemakan bangkai itu. Toh, itu merupakan rezeki bagi mereka sehingga ada yang dapat mereka kunyah, dibahas dengan empuk, dikulum-kulum hingga tinggal sepahnya lalu dimuntahkan untuk diolah lagi oleh kawanan pemakan bangkai lain. Biarlah apa yang terlanjur kulemparkan, kata-kata dan sikapku itu, dijadikan bahan gunjingan nan lezat, dijadikan cemooh, umpatan, hingga gurauan. Biarlah mereka menikmati itu selama mereka masih inginkan. Dan satu lagi, wahai dingin malam, seharusnya aku berterima kasih pada mereka. Karena dengan legitimasi yang sedemikian rupa tentang keburukanku, aku jadi tahu dimana aku berada. Mungkin aku justru seharusnya marah pada orang yang berbicara tentang kebaikan yang ada dalam diriku, karena dengan itu setan-setan dengan mudahnya mengerubungiku untuk dibuainya lalu dijerumuskannya dalam jurang siksa.

Oh, wahai pemakan bangkai, sungguh sangat berarti kehadiranmu dalam kehidupanku. Tak bisa kubayangkan jika engkau tak ada dalam hidupku untuk setia menjadi cermin bagiku agar tersadar akan keburukanku. Sungguh dengan segala usaha kerasmu menjadikan apa yang kuanggap sampah lalu kubuang dan kau olah dengan apik itu, aku sangat berterima kasih. Tapi, wahai saudaraku, sesungguhnya aku juga ingin sekali melihatmu tidak lagi memakan bangkai yang kubuang itu dengan susah payah kau olah untuk menjadi makanan lezat. Aku ingin sekali pergi bersama kalian untuk membeli makanan yang benar-benar lezat di restoran sehingga tak usah lagi susah payah mengolah dan memakan bangkai saudara kalian lagi. Tapi itu hanya keinginan pribadiku, aku bukan bermaksud untuk merendahkan kalian. Mungkin kalian akan berkata : “Kau ingin mencela kami? Cela saja langsung tanpa tedeng-aling, tak usah kau munafik!! Kami di sini masih punya tenaga lebih untuk mengolah apa yang kau anggap bangkai itu!! Tak usah sok jadi penderma yang mengajak kami menikmati makanan mewah. Kau pikir hanya kau yang pernah makan di restoran!! Kami juga sering, hanya saja kami lebih menikmati makan bangkai yang kami olah sendiri!! Dan bukankah kau sendiri sering menikmati sajian bangkai yang kami persembahkan?” Yah aku memang melakukan itu. Aku sangat memahami mengapa kalian berkata demikian. Mungkin kalian menganggapku seorang paling munafik. Wahai kawan, wahai saudaraku, bukan maksudku seperti itu. Aku hanya ingin selalu makan bersama kalian, tapi bukan memakan bangkai saudara kalian. Aku ingin makan di restoran bersama kalian, itu saja. Aku membayangkan, sungguh –  mungkin sangat indah bisa makan bersama kalian dengan hidangan lezat yang bukan terbuat dari bangkai sesama manusia.

Duhai Gusti, semoga doa dan keinginanku untuk makan di restoran bersama-sama dengan kawan dan saudaraku itu suatu saat terwujud. Agar aku dan kawan-kawan serta saudara-saudaraku tak lagi saling menyuguhkan makanan bangkai saat bertamu satu sama lain. Amiiin. [ ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar