Bodohnya aku, kenapa kulempar segala hal tentangku pada para
pemakan bangkai saudara itu? Tidakkah kulihat, bagaimana mereka dengan mudah
menerima apa yang kuanggap sampah itu dan diolahnya dengan cepat menjadi sajian
nan menggugah selera? Tidakkah apa yang kuceritakan itu, sungguh menjadi modal
berharga bagi para pemakan bangkai yang melahap dengan rakus lalu
memuntahkannya kembali untuk diolah lagi oleh pemakan bangkai lainnya?
Oh, duhai masa, aku hilang ketika aku berada dalam putaran
zaman, antara yang lalu dengan yang kekinian. Mereka, wahai malam, terus saja
menantiku menahan gejolak diri untuk segera membuang kata-kata dan laku ceroboh
tentang keburukan dan kebaikan lalu mereka olah untuk menjadi hidangan sedap
yang mereka bagikan pada teman-teman. Oh, bodohnya diriku.
Seorang teman seangkatan pernah menyurat, bahwa sungguh
enak untuk membicarakan seseorang di kala orang itu tak bersama kita. Suratan
itu dituliskannya saat ia merasa sungguh sering ia dipergunjingkan teman-temannya
sendiri saat ia tak bersama mereka. Dan alasan kedua yang membuatnya menyurat
seperti demikian, adalah rasa penasaran
kenapa teman-temannya selalu bermuka manis padanya saat ia bersama mereka,
Suratan dari teman seangkatanku itu memang tak kuhiraukan
waktu itu. Ia kuanggap hanya sekedar gejolak hati, surat yang sentimentil bagi
orang yang merasa ter’zdalimi. Aku hanya menganggap apa yang ingin
disampaikannya itu terlalu emosional. Namun kini, oh waktu, aku menyadari
betapa pentingnya suratan yang ia tulis itu untukku berhati-hati, setidaknya
berhati-hati mengeluarkan kata-kata pada orang lain. Karena ketika kata-kata,
sekalipun kau anggap hanya sampah dan tak berarti bagimu, bisa jadi akan
menjadi sangat berharga bagi orang lain untuk disantap rakus, dan
dipergunjingkan menjadi bola salju liar yang menerjang rumah-rumah penduduk di
bawahnya tanpa mereka tahu sumber pasti darimana asal bola salju itu.
Tapi, duhai sunyi, aku mungkin bisa bersyukur karena
ternyata kata-kata yang kuanggap sampah sekalipun masih bisa dilahap, biarpun
yang melahap para pemakan bangkai itu. Toh, itu merupakan rezeki bagi mereka
sehingga ada yang dapat mereka kunyah, dibahas dengan empuk, dikulum-kulum
hingga tinggal sepahnya lalu dimuntahkan untuk diolah lagi oleh kawanan pemakan
bangkai lain. Biarlah apa yang terlanjur kulemparkan, kata-kata dan sikapku
itu, dijadikan bahan gunjingan nan lezat, dijadikan cemooh, umpatan, hingga
gurauan. Biarlah mereka menikmati itu selama mereka masih inginkan. Dan satu
lagi, wahai dingin malam, seharusnya aku berterima kasih pada mereka. Karena
dengan legitimasi yang sedemikian rupa tentang keburukanku, aku jadi tahu
dimana aku berada. Mungkin aku justru seharusnya marah pada orang yang
berbicara tentang kebaikan yang ada dalam diriku, karena dengan itu setan-setan
dengan mudahnya mengerubungiku untuk dibuainya lalu dijerumuskannya dalam
jurang siksa.
Oh, wahai pemakan bangkai, sungguh sangat berarti
kehadiranmu dalam kehidupanku. Tak bisa kubayangkan jika engkau tak ada dalam
hidupku untuk setia menjadi cermin bagiku agar tersadar akan keburukanku.
Sungguh dengan segala usaha kerasmu menjadikan apa yang kuanggap sampah lalu
kubuang dan kau olah dengan apik itu, aku sangat berterima kasih. Tapi, wahai
saudaraku, sesungguhnya aku juga ingin sekali melihatmu tidak lagi memakan
bangkai yang kubuang itu dengan susah payah kau olah untuk menjadi makanan
lezat. Aku ingin sekali pergi bersama kalian untuk membeli makanan yang
benar-benar lezat di restoran sehingga tak usah lagi susah payah mengolah dan
memakan bangkai saudara kalian lagi. Tapi itu hanya keinginan pribadiku, aku
bukan bermaksud untuk merendahkan kalian. Mungkin kalian akan berkata : “Kau ingin mencela kami? Cela saja langsung
tanpa tedeng-aling, tak usah kau munafik!! Kami di sini masih punya tenaga
lebih untuk mengolah apa yang kau anggap bangkai itu!! Tak usah sok jadi
penderma yang mengajak kami menikmati makanan mewah. Kau pikir hanya kau yang
pernah makan di restoran!! Kami juga sering, hanya saja kami lebih menikmati
makan bangkai yang kami olah sendiri!! Dan bukankah kau sendiri sering
menikmati sajian bangkai yang kami persembahkan?” Yah aku memang melakukan
itu. Aku sangat memahami mengapa kalian berkata demikian. Mungkin kalian
menganggapku seorang paling munafik. Wahai kawan, wahai saudaraku, bukan
maksudku seperti itu. Aku hanya ingin selalu makan bersama kalian, tapi bukan
memakan bangkai saudara kalian. Aku ingin makan di restoran bersama kalian, itu
saja. Aku membayangkan, sungguh – mungkin sangat indah bisa makan bersama kalian
dengan hidangan lezat yang bukan terbuat dari bangkai sesama manusia.
Duhai Gusti, semoga doa dan keinginanku untuk makan di
restoran bersama-sama dengan kawan dan saudaraku itu suatu saat terwujud. Agar
aku dan kawan-kawan serta saudara-saudaraku tak lagi saling menyuguhkan makanan
bangkai saat bertamu satu sama lain. Amiiin. [ ]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar