TUGIEZLAND

Senin, 30 November 2015

MUSIKIMIA, CARA LAIN UNTUK MOVE ON

Oleh: Rizky A. Prasojo

Sepertinya aku salah memilih kegiatan pengisi waktu. Menunggu datangnya jam meeting dengan klien. Seharusnya aku tadi berjalan-jalan ke Mall, mengharap adanya diskon baju. Atau duduk bersimpuh di lantai, diantara rak buku, membaca dengan asyik buku contoh yang tak tersegel, berkucing-kucingan dengan pelayan toko untuk tak dicurigai sebagai pembaca gratisan. Hal lain yang bisa kulakukan adalah duduk di sebuah kafe, memesan kopi dan beberapa camilan, menyalakan laptop, dan berselancar sesukanya, memanfaatkan wifi kafe. Tapi itu semua tidak terjadi. Aku memilih duduk di bangku pojok kanan belakang dalam Bus Rapid Transit (BRT) Sidoarjo. Sebuah sistem transportasi baru di kota udang ini yang dirancang hampir mirip dengan bus trans yang ada di Jakarta. Meski kesannya hampir mirip bus wisata, masih jarang peminat. Rata-rata penumpang adalah orang-orang yang penasaran dan ingin berwisata mengisi waktu sepertiku. Kemungkinan trayek yang kurang populer dan letak halte yang kurang strategis menjadi penghambat penyerapan penumpang.

Sebagai salah satu analisator dari tim peneliti di perusahaan konsultasi, aku banyak menghabiskan waktu di rumah. Bergelut dengan data-data yang dikirimkan atasan, dan mengirimkannya kembali dalam bentuk file analisis melalui surat elektronik. Hanya jika ada meeting saja aku pergi ke kantor, seperti hari ini. Dan seharusnya meeting hari ini dijadwalkan pada pukul 09.00 WIB Tapi mendadak HP ku bergetar saat baru saja memarkirkan motorku di depan kantor, sebuah pesan masuk terbaca: “Klien mendadak meminta Meeting hari ini pada jam 16:00”. “Ah, sial” umpattku, menyesali datang ke kantor jauh lebih awal, pukul 08.00 WIB.
It’s Okey, mungkin ini cara agar aku bisa piknik” ucapku menenangkan diri. aku melepas helm, masker, dan sarung tangan yang masih melekat. Memperbaiki jilbab yang agak lusuh terhimpit helm. Dan berjalan keluar gerbang kantor. “Loh, mau kemana mbak nDa?” tanya Pak Agus, satpam kantor yang punya wajah cukup menyenangkan. Maksudku menyenangkan dalam hal ini adalah suka bercanda dengan orang-orang kantor. Wajahnya tegas, juga garang bagi yang belum mengenalnya. Guratan dan garis-garis wajahnya sangat memperlihatkan dengan jelas pengalaman hidupnya yang cukup keras, juga kematangannya.“Ah, mau jalan-jalan bentar, cari angin Pak” aku membalas dengan senyum. “Perlu dikawal mbak nDa?” dia menggodaku, selalu begitu pada setiap pekerja kantor yang dikenalnya. Keramahan dan guyonan sumringah-nya inilah yang menjawab pertanyaan mengapa para pekerja menaruh rasa hormat padanya.”Wah, gak usah repot Pak” langkahku menyeretku ke halte BRT yang terletak tidak lebih dari dua ratus meter dari kantorku. Yah, aku sudah memilih untuk menghabiskan waktu dengan naik BRT hingga sore datang nanti.

Tentang sebuah pilihan. Beberapa hari lalu, tepatnya pada Sabtu malam. Aku dihadapkan pada pilihan yang sangat menyulitkanku. Dan hingga hari ini pun, aku masih terngiang jelas suara lelaki yang memaksaku memilih itu. juga sorot tajam matanya yang menatapku penuh arti diantara remang lampu restoran, diantara sayup-sayup alunan musik dari sebuah grup band bergenre jazz. Suasana yang seharusnya romantis, bukan? Tapi kenyataan seringkali mengatakan sebaliknya. Dan mimpi-mimpi seringkali harus dipaksa mendengarkan apa yang dikatakan kenyataan. Lalu ia perlahan layu berjatuhan seperti kumpulan laron yang sayapnya mulai layu usai berterbangan mengelilingi lampu kala musim hujan.

Seperti sudah ada yang memperjalankan. Baru saja duduk di halte tidak kurang dari lima menit, BRT sudah datang. Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam bus. Aku langsung saja memilih kursi di pojok kanan paling belakang. Dua orang ibu muda terlihat duduk di kursi sebelah kiri bus. Masing-masing mendekap bayi di pangkuan. Sementara duduk di sebelah kanan, adalah seorang bapak setengah baya dengan rambut gondrong yang dikuncir. Deratan kursi disusun sedemikian rupa sehingga saling berhadapan, kecuali deretan kursi paling belakang. Suasana dalam bus sendiri cukup lengang. Hanya ada sekitar 9 penumpang di dalamnya, termasuk aku.

Kondektur bus, seorang cewek berusia sekitar 18 tahun mendatangiku, menanyakan tujuanku. “Ah, kemana yah mbak, pokoknya sampai tujuan terakhir aja”,”mau jalan-jalan yah mbak?” tanyanya kemudian. Ia meninggalkanku usai berbincang beberapa saat, lebih tepatnya sesi wawancara sih, karena aku lebih banyak bertanya tentang bus ini. Bus berjalan menuju arah selatan, ke arah Porong, dengan kecepatan rata-rata 45 km/jam. Aku sendiri menghadapkan wajah di kaca sebelah bus. Mengamati jalanan kota yang cukup ramai di siang ini. Sementara suasana lengang di dalam bus membawa lamunanku pada kenangan. Speaker bus memperdengarkan lagu-lagu PADI menambah cepat kenanganku berlari dan menabrak keras pikiranku. Hampir saja aku berlinang air mata. Lagu-lagu ini adalah lagu favorit kami, lagu yang sering kami putar, atau lebih tepatnya ia putar di dalam mobil saat perjalanan ke suatu tempat. Yah, sepertinya aku salah pilih tempat menghabiskan waktu. Seharusnya tidak dalam bus ini memang. Seharusnya. Aku menghirup nafas panjang, menghembuskannya kemudian.
***
“Kita tidak bisa terus seperti ini, Adinda” ucapnya pada Sabtu malam itu. aku hanya menunduk. Mengingat semua kebersamaan dengannya. Hening beberapa saat. Ia menungguku bersuara. Yang ditunggu masih asyik berlarian dengan kenangan. “Dinda..” ia memegang kedua tanganku di atas meja. Aku memaksa diri menatap matanya. “Aku tau, ini berat, tapi sampai kapan, sayang?” suaranya melemah, terdengar seperti orang yang hampir putus asa. Aku menunduk kembali. Setetes air mata meluncur, dan dengan cepat tetesan berikutnya menyusul.

Aku ingat beberapa minggu sebelumnya, di restoran yang sama, ia menyatakan tekadnya untuk melamarku. Ia, dengan sedikit memaksaku, meminta dikenalkan pada orang tuaku. Aku mengiyakannya begitu saja. Dan dua hari kemudian ia kuperkenalkan pada orangtuaku. Mereka menyambut baik. Saat ia pulang, ayah menanyaiku lebih rinci mengenai latar belakangnya. Ketika sampai pada pertanyaan: “Apa agamanya?” aku tertunduk. Dan dengan lemah aku menyebutkannya. Lalu hening. Ayah meninggalkanku masuk keluar rumah, duduk di teras dengan rokok di tangannya. “Sudahlah nak, percayalah, hari baik akan segera datang” ucap ibu menenangkanku.

Kami menjalin hubungan belum genap setahun, memang. Tapi kenangan bersamanya sangat mendalam. Banyak pelajaran hidup yang kudapat darinya. Seorang pengusaha muda yang tak melupakan sedikitpun masalalunya yang bahkan pernah menjadi cleaning service. Para karyawannya pun menaruh rasa hormat yang tinggi akibat perlakuan baiknya terhadap karyawan. Itu juga yang menjadi alasanku untuk meyakinkan orangtuaku menerimanya. Tapi, kenyataan selalu berkata lain memang. Ibu, yang mengetahui secara detail tentangnya sejak awal hubunganku pun tak mampu berkata banyak. Sejak malam itu, ibu mencoba merayu ayah, tak satupun berhasil. Ayah kecewa berat. Sejak awal hubungan ibu memang pernah mengingatkanku, tapi aku tetap memaksa. Dan ibu hanya bersikap netral, tak menolak, tak juga menunjukkan dukungan yang antusias. Hanya saja, ibu banyak membantu selama setahun itu sering mengajak ayah berdiskusi tentang hubungan berbeda keyakinan agama. Puncaknya, malam itulah jawaban atas pertanyaan di benak ayah (mungkin) mengapa ibu sering mengajaknya berdiskusi tentang hal tersebut.
***
Bus memasuki terminal Porong. Para penumpang turun, termasuk aku. Aku harus berganti bus, naik ke BRT yang akan menuju terminal Purabaya, Bungurasih. Melanjutkan perjalananku menghabiskan waktu. Lima belas menit kemudian BRT melaju. Kali ini, kondektur bus juga cewek. “Mungkin semua kondektur BRT cewek kali ya” pikirku. Aku kembali memilih posisi kursi belakang. Tetap di pojok kanan. Bukan apa-apa, begitu turun tadi aku langsung bergegas masuk ke bus jurusan Bungurasih yang kebetulan masih kosong, jadi bebas memilih tempat.

Sebagaimana bus pertama tadi, speaker bus ini juga tak berhenti sepanjang perjalanan. Bedanya, suaara pembawa acara sebuah radio kerap menyelingi lagu-lagu yang diputar. Juga iklan-iklan. Sebagaimana speaker bus yang tetap bersuara, kenangan-kenangan juga terus berdatangan menghampiri pikiranku sepanjang jalan. Dari belakang sini, terlihat beberapa kali kondektur bus yang duduk di belakang sopir berbincang dan sesekali bercanda. Agak menghawatirkan memang meski bus melaju lebih lambat dari bus pertama tadi.

Bus telah melewati gerbang tol Sidoarjo. Berkelok meliuk dengan anggun usai melintasi fly over Sidoarjo menuju arah Surabaya. Kondektur sudah tak terlihat mengobrol lagi dengan sopir. Bus melaju jauh lebih kencang dari sebelum memasuki tol, sekitar 80 km/jam. Suara speaker perlahan semakin melemah, menyisakan sayup-sayup suara mesin bus yang meliuk-liuk ke kanan-kiri, menyalip beberapa mobil lain. Aku sendiri, semakin larut dalam kenangan.
***
“Entahlah, Adinda. Mungkin sebaiknya kita berhenti memaksakan diri” ia kembali mendapatkan suaranya. Aku mengernyitkan dahi, mengangkat alis. Dengan mata yang masih berderai air mata tentunya.“Kenapa?” aku mencoba mengkonfirmasi. Meski suara itu hanya sampai di rongga dada. “Kita tak ditakdirkan bersama. Atau jika kau mau, kau ikut denganku, dan kita menikah tanpa sepengetahuan orangtuamu, membangun hidup bersama..” ia menatapku tajam. Aku menghentikan isakan sejenak. “...dan itu tak mungkin” ia meneruskan. Suaranya sangat lemah kali ini. seperti berbicara pada dirinya sendiri. Aku tercekat. Dadaku semakin sesak. Ingin rasanya berteriak sekencangnya. Tapi itu tak mungkin kulakukan. Seluruh isi restoran akan menatapku. Aku memilih menenggelamkan kepala dalam pangkuan tangan. Menangis tersedu. Hening. Sejurus kemudian aku mendongakkan kepala menatapnya. “Kenapa? Kenapa harus seperti ini? kenapa? Tuhan tak adil. Kenapa ada berbagai agama jika ia tak mampu menyatukan manusia?kenapa? kenapa...” suaraku berhenti oleh segukan tangis. Ia mengelus pipiku. Mengusap airmata yang deras berjatuhan. “Kita tak bisa memaksa, sayang. Cinta adalah kerelaan, rela menerima atau melepaskan. Bahagia kita adalah simfoni, musik yang selalu mengalun, saat kita bersama ataupun tidak. Bahagia kita tidaklah tergantung satu sama lainnya sayang. Percayalah” ucapnya meyakinkanku. Tiga puluh menit kemudian tangisku baru berhenti dan ia mengajakku pulang.

Sehari usai datang ke rumahku, aku menceritakan semua kepadanya. Utamanya tentang sikap penolakan ayahku. Ia hanya diam saat kuberitakan tentang itu. hany sesekali mengangguk.”Apa kita masih bisa melanjutkan hubungan?” tanyaku hati-hati. Ia tersenyum. “Tentu, mungkin kau masih bisa membujuk ayahmu, meyakinkannya” jawabnya optimis. Aku hanya tersenyum. Senyum yang sangat getir. “Sudah tidak mungkin sayang, keputusan ayah tak mungkin digugat. Terlebih menyangkut keyakinan agama” ucapku dalam hati. Dan saat itu aku hanya berpikir, beberapa waktu ke depan, bom waktu akan segera meledak. Benar saja, di restoran itulah ia memaksaku memilih. Memilih untuk merelakan diri melepaskannya.

Pertemuanku dengannya terjadi di acara launching penerbitan sebuah buku. Saat itu ia sama sepertiku, terlihat kagok saat hendak memasuki ruangan. Kami duduk bersebelahan. Ia yang menanyaiku lebih dulu: “Baru pertama?” aku mengangguk. “Pantas saja. Hehe. Tenang saja, kau tak sendirian. Aku juga kali pertama kok” terusnya dengan santai. Dan sejak itu kami akrab. Yang membuatku kagum adalah pengakuannya tentang pekerjaan. Ia saat itu mengaku sebagai pedagang sembako. Membuka stan kecil di pasar tradisional Porong. Kalau mengajak keluar pun, paling mewah diajak ke junkfood di mall-mall. Selebihnya, lapak kaki lima-lah yang  menjadi tempat. Hanya beberapa bulan belakangan saja ia sering mengajakku ke restoran ternama. Dan aku baru tau bahwa ia adalah salah satu pengusaha importir terkaya di kota ini dari koran sebulan lalu. Profilnya ditulis di koran lokal dalam rubrik inspirasi muda. Ketika kutanya mengapa ia selama ini menyembunyikan identitasnya, ia hanya tersenyum mengangkat bahu. Lalu dia berbisik:”kalau gak sembunyi, mana bisa saling mengusap tangan yang masih bersisa sambal penyetan lele denganmu” dia lalu tertawa sumringah.
***
Kenanganku perlahan berhenti. Seiring berhentinya bus oleh kemacetan jalan ketika keluar pintu tol waru, tepatnya di kawasan pertigaan Medaeng. Suara speaker bus masih menyala. Kali ini memperdengarkan sebuah lagu. Lagu baru menurutku. Entahlah, radio bus sejak tadi sering memperdengarkan lagu-lagu terkini. Ah, betap jadulnya aku. Hanya mendengarkan lagu-lagu era 90’an. Betapa tertinggalnya aku akan lagu-lagu masa kini. Mungkin hanya beberapa saja yang kusuka.

...Dan bernyanyilah
Senandungkan isi suara hati
Bila kau terluka ...

Lirik lagu terdengar menyenangkan. Pas dengan alunan musik dan suara vokal yang sepertinya kukenal. Suara Fadly mungkin, aku menebak. Penasaran, aku pun mengaktifkan aplikasi penelusuran suara dari HP androidku. Klik. Dan beberapa saat kemudian muncul beberapa nama. MUSIKIMIA. Itu kata yang banyak muncul dari mesin pencari. Aku meng-klik salah satu link-nya. Ternyata benar. Nama itu adalah nama band yang digawangi oleh personil PADI. Sebuah kebetulan yang indah.

Aku pun mencoba berdamai dengan kenyataan. Setelah bergumul menenggelamkan diri dalam kenangan di hampir sepanjang perjalanan tadi. Aku tersenyum. Kenapa harus larut tenggelam dalam sedih, jika tersenyum lebih bisa dinikmati. Kenapa harus mengalihkan perhatian, menenggelamkan diri pada pekerjaan, jika menyimpan kenangan lebih mudah dilakukan. Dari lagu itu pun aku menghayati kembali kata-kata terakhir yang diucapkannya di malam itu: “cinta adalah kerelaan untuk menerima atau melepaskan, bahagia kita adalah simfoni, musik yang selalu mengalun...” yah, aku memahamimu sayang, bahagia kita adalah simfoni. Musik yang selalu mengalun. Sebagaimana musik PADI yang bertransformasi. Sebagaimana MUSIKIMIA yang meramu berbagai rasa membentuk sebuah rasa yang teramat indah. Musik, yang selalu mengalun. Seperti hidup yang akan terus berjalan, takkan pernah menunggu kenangan menjadi seperti apa yang seharusnya kita inginkan.

Dengarkanlah alunan lagu yang menyembuhkan lara hati
Warnai hidupmu kembali
Menarilah . . .  Bernyanyilah . . .

Jika PADI saja bisa move on jadi MUSIKIMIA, kenapa kau terus bergelut dengan kenangan?


*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia dan Nulisbuku.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar