Oleh: Rizky A. Prasojo
Sepertinya aku salah memilih kegiatan pengisi waktu.
Menunggu datangnya jam meeting dengan
klien. Seharusnya aku tadi
berjalan-jalan ke Mall, mengharap adanya diskon baju. Atau duduk bersimpuh di
lantai, diantara rak buku, membaca dengan asyik buku contoh yang tak tersegel,
berkucing-kucingan dengan pelayan toko untuk tak dicurigai sebagai pembaca gratisan.
Hal lain yang bisa kulakukan adalah duduk di sebuah kafe, memesan kopi dan
beberapa camilan, menyalakan laptop, dan berselancar sesukanya, memanfaatkan
wifi kafe. Tapi itu semua tidak terjadi. Aku memilih duduk di bangku pojok kanan
belakang dalam Bus Rapid Transit (BRT)
Sidoarjo. Sebuah sistem transportasi baru di kota udang ini yang dirancang
hampir mirip dengan bus trans yang ada di Jakarta. Meski kesannya hampir mirip
bus wisata, masih jarang peminat. Rata-rata penumpang adalah orang-orang yang penasaran
dan ingin berwisata mengisi waktu sepertiku. Kemungkinan trayek yang kurang
populer dan letak halte yang kurang strategis menjadi penghambat penyerapan
penumpang.
Sebagai salah satu analisator dari tim peneliti di
perusahaan konsultasi, aku banyak menghabiskan waktu di rumah. Bergelut dengan
data-data yang dikirimkan atasan, dan mengirimkannya kembali dalam bentuk file
analisis melalui surat elektronik. Hanya jika ada meeting saja aku pergi ke kantor, seperti hari ini. Dan seharusnya meeting hari ini dijadwalkan pada pukul
09.00 WIB Tapi mendadak HP ku bergetar saat baru saja memarkirkan motorku di
depan kantor, sebuah pesan masuk terbaca: “Klien
mendadak meminta Meeting hari ini
pada jam 16:00”. “Ah, sial” umpattku, menyesali datang ke kantor jauh lebih
awal, pukul 08.00 WIB.
“It’s Okey, mungkin
ini cara agar aku bisa piknik” ucapku menenangkan diri. aku melepas helm,
masker, dan sarung tangan yang masih melekat. Memperbaiki jilbab yang agak
lusuh terhimpit helm. Dan berjalan keluar gerbang kantor. “Loh, mau kemana mbak
nDa?” tanya Pak Agus, satpam kantor yang punya wajah cukup menyenangkan.
Maksudku menyenangkan dalam hal ini adalah suka bercanda dengan orang-orang
kantor. Wajahnya tegas, juga garang bagi yang belum mengenalnya. Guratan dan
garis-garis wajahnya sangat memperlihatkan dengan jelas pengalaman hidupnya
yang cukup keras, juga kematangannya.“Ah, mau jalan-jalan bentar, cari angin Pak” aku membalas dengan senyum. “Perlu dikawal
mbak nDa?” dia menggodaku, selalu begitu pada setiap pekerja kantor yang
dikenalnya. Keramahan dan guyonan sumringah-nya inilah yang menjawab
pertanyaan mengapa para pekerja menaruh rasa hormat padanya.”Wah, gak usah
repot Pak” langkahku menyeretku ke halte BRT yang terletak tidak lebih dari dua
ratus meter dari kantorku. Yah, aku sudah memilih untuk menghabiskan waktu
dengan naik BRT hingga sore datang nanti.
Tentang sebuah pilihan. Beberapa hari lalu, tepatnya
pada Sabtu malam. Aku dihadapkan pada pilihan yang sangat menyulitkanku. Dan
hingga hari ini pun, aku masih terngiang jelas suara lelaki yang memaksaku
memilih itu. juga sorot tajam matanya yang menatapku penuh arti diantara remang
lampu restoran, diantara sayup-sayup alunan musik dari sebuah grup band
bergenre jazz. Suasana yang
seharusnya romantis, bukan? Tapi kenyataan seringkali mengatakan sebaliknya.
Dan mimpi-mimpi seringkali harus dipaksa mendengarkan apa yang dikatakan
kenyataan. Lalu ia perlahan layu berjatuhan seperti kumpulan laron yang sayapnya mulai layu usai
berterbangan mengelilingi lampu kala musim hujan.
Seperti sudah ada yang memperjalankan. Baru saja
duduk di halte tidak kurang dari lima menit, BRT sudah datang. Aku melangkahkan
kaki masuk ke dalam bus. Aku langsung saja memilih kursi di pojok kanan paling
belakang. Dua orang ibu muda terlihat duduk di kursi sebelah kiri bus.
Masing-masing mendekap bayi di pangkuan. Sementara duduk di sebelah kanan,
adalah seorang bapak setengah baya dengan rambut gondrong yang dikuncir.
Deratan kursi disusun sedemikian rupa sehingga saling berhadapan, kecuali
deretan kursi paling belakang. Suasana dalam bus sendiri cukup lengang. Hanya
ada sekitar 9 penumpang di dalamnya, termasuk aku.
Kondektur bus, seorang cewek berusia sekitar 18
tahun mendatangiku, menanyakan tujuanku. “Ah, kemana yah mbak, pokoknya sampai
tujuan terakhir aja”,”mau jalan-jalan yah mbak?” tanyanya kemudian. Ia
meninggalkanku usai berbincang beberapa saat, lebih tepatnya sesi wawancara sih, karena aku lebih banyak bertanya
tentang bus ini. Bus berjalan menuju arah selatan, ke arah Porong, dengan
kecepatan rata-rata 45 km/jam. Aku sendiri menghadapkan wajah di kaca sebelah
bus. Mengamati jalanan kota yang cukup ramai di siang ini. Sementara suasana
lengang di dalam bus membawa lamunanku pada kenangan. Speaker bus
memperdengarkan lagu-lagu PADI menambah cepat kenanganku berlari dan menabrak
keras pikiranku. Hampir saja aku berlinang air mata. Lagu-lagu ini adalah lagu
favorit kami, lagu yang sering kami putar, atau lebih tepatnya ia putar di
dalam mobil saat perjalanan ke suatu tempat. Yah, sepertinya aku salah pilih
tempat menghabiskan waktu. Seharusnya tidak dalam bus ini memang. Seharusnya.
Aku menghirup nafas panjang, menghembuskannya kemudian.
***
“Kita tidak bisa terus seperti ini, Adinda” ucapnya
pada Sabtu malam itu. aku hanya menunduk. Mengingat semua kebersamaan
dengannya. Hening beberapa saat. Ia menungguku bersuara. Yang ditunggu masih
asyik berlarian dengan kenangan. “Dinda..” ia memegang kedua tanganku di atas
meja. Aku memaksa diri menatap matanya. “Aku tau, ini berat, tapi sampai kapan,
sayang?” suaranya melemah, terdengar seperti orang yang hampir putus asa. Aku
menunduk kembali. Setetes air mata meluncur, dan dengan cepat tetesan
berikutnya menyusul.
Aku ingat beberapa minggu sebelumnya, di restoran
yang sama, ia menyatakan tekadnya untuk melamarku. Ia, dengan sedikit
memaksaku, meminta dikenalkan pada orang tuaku. Aku mengiyakannya begitu saja.
Dan dua hari kemudian ia kuperkenalkan pada orangtuaku. Mereka menyambut baik.
Saat ia pulang, ayah menanyaiku lebih rinci mengenai latar belakangnya. Ketika
sampai pada pertanyaan: “Apa agamanya?” aku tertunduk. Dan dengan lemah aku
menyebutkannya. Lalu hening. Ayah meninggalkanku masuk keluar rumah, duduk di
teras dengan rokok di tangannya. “Sudahlah nak, percayalah, hari baik akan
segera datang” ucap ibu menenangkanku.
Kami menjalin hubungan belum genap setahun, memang.
Tapi kenangan bersamanya sangat mendalam. Banyak pelajaran hidup yang kudapat
darinya. Seorang pengusaha muda yang tak melupakan sedikitpun masalalunya yang bahkan
pernah menjadi cleaning service. Para
karyawannya pun menaruh rasa hormat yang tinggi akibat perlakuan baiknya terhadap
karyawan. Itu juga yang menjadi alasanku untuk meyakinkan orangtuaku
menerimanya. Tapi, kenyataan selalu berkata lain memang. Ibu, yang mengetahui
secara detail tentangnya sejak awal hubunganku pun tak mampu berkata banyak.
Sejak malam itu, ibu mencoba merayu ayah, tak satupun berhasil. Ayah kecewa
berat. Sejak awal hubungan ibu memang pernah mengingatkanku, tapi aku tetap
memaksa. Dan ibu hanya bersikap netral, tak menolak, tak juga menunjukkan
dukungan yang antusias. Hanya saja, ibu banyak membantu selama setahun itu
sering mengajak ayah berdiskusi tentang hubungan berbeda keyakinan agama. Puncaknya,
malam itulah jawaban atas pertanyaan di benak ayah (mungkin) mengapa ibu sering
mengajaknya berdiskusi tentang hal tersebut.
***
Bus memasuki terminal Porong. Para penumpang turun,
termasuk aku. Aku harus berganti bus, naik ke BRT yang akan menuju terminal
Purabaya, Bungurasih. Melanjutkan perjalananku menghabiskan waktu. Lima belas
menit kemudian BRT melaju. Kali ini, kondektur bus juga cewek. “Mungkin semua
kondektur BRT cewek kali ya” pikirku. Aku kembali memilih posisi kursi
belakang. Tetap di pojok kanan. Bukan apa-apa, begitu turun tadi aku langsung
bergegas masuk ke bus jurusan Bungurasih yang kebetulan masih kosong, jadi
bebas memilih tempat.
Sebagaimana bus pertama tadi, speaker bus ini juga
tak berhenti sepanjang perjalanan. Bedanya, suaara pembawa acara sebuah radio
kerap menyelingi lagu-lagu yang diputar. Juga iklan-iklan. Sebagaimana speaker
bus yang tetap bersuara, kenangan-kenangan juga terus berdatangan menghampiri
pikiranku sepanjang jalan. Dari belakang sini, terlihat beberapa kali kondektur
bus yang duduk di belakang sopir berbincang dan sesekali bercanda. Agak
menghawatirkan memang meski bus melaju lebih lambat dari bus pertama tadi.
Bus telah melewati gerbang tol Sidoarjo. Berkelok
meliuk dengan anggun usai melintasi fly
over Sidoarjo menuju arah Surabaya. Kondektur sudah tak terlihat mengobrol
lagi dengan sopir. Bus melaju jauh lebih kencang dari sebelum memasuki tol,
sekitar 80 km/jam. Suara speaker perlahan semakin melemah, menyisakan
sayup-sayup suara mesin bus yang meliuk-liuk ke kanan-kiri, menyalip beberapa
mobil lain. Aku sendiri, semakin larut dalam kenangan.
***
“Entahlah, Adinda. Mungkin sebaiknya kita berhenti
memaksakan diri” ia kembali mendapatkan suaranya. Aku mengernyitkan dahi,
mengangkat alis. Dengan mata yang masih berderai air mata tentunya.“Kenapa?”
aku mencoba mengkonfirmasi. Meski suara itu hanya sampai di rongga dada. “Kita
tak ditakdirkan bersama. Atau jika kau mau, kau ikut denganku, dan kita menikah
tanpa sepengetahuan orangtuamu, membangun hidup bersama..” ia menatapku tajam.
Aku menghentikan isakan sejenak. “...dan itu tak mungkin” ia meneruskan.
Suaranya sangat lemah kali ini. seperti berbicara pada dirinya sendiri. Aku
tercekat. Dadaku semakin sesak. Ingin rasanya berteriak sekencangnya. Tapi itu
tak mungkin kulakukan. Seluruh isi restoran akan menatapku. Aku memilih
menenggelamkan kepala dalam pangkuan tangan. Menangis tersedu. Hening. Sejurus
kemudian aku mendongakkan kepala menatapnya. “Kenapa? Kenapa harus seperti ini?
kenapa? Tuhan tak adil. Kenapa ada berbagai agama jika ia tak mampu menyatukan
manusia?kenapa? kenapa...” suaraku berhenti oleh segukan tangis. Ia mengelus
pipiku. Mengusap airmata yang deras berjatuhan. “Kita tak bisa memaksa, sayang.
Cinta adalah kerelaan, rela menerima atau melepaskan. Bahagia kita adalah
simfoni, musik yang selalu mengalun, saat kita bersama ataupun tidak. Bahagia
kita tidaklah tergantung satu sama lainnya sayang. Percayalah” ucapnya
meyakinkanku. Tiga puluh menit kemudian tangisku baru berhenti dan ia
mengajakku pulang.
Sehari usai datang ke rumahku, aku menceritakan
semua kepadanya. Utamanya tentang sikap penolakan ayahku. Ia hanya diam saat
kuberitakan tentang itu. hany sesekali mengangguk.”Apa kita masih bisa
melanjutkan hubungan?” tanyaku hati-hati. Ia tersenyum. “Tentu, mungkin kau
masih bisa membujuk ayahmu, meyakinkannya” jawabnya optimis. Aku hanya tersenyum.
Senyum yang sangat getir. “Sudah tidak mungkin sayang, keputusan ayah tak
mungkin digugat. Terlebih menyangkut keyakinan agama” ucapku dalam hati. Dan
saat itu aku hanya berpikir, beberapa waktu ke depan, bom waktu akan segera
meledak. Benar saja, di restoran itulah ia memaksaku memilih. Memilih untuk
merelakan diri melepaskannya.
Pertemuanku dengannya terjadi di acara launching penerbitan sebuah buku. Saat
itu ia sama sepertiku, terlihat kagok saat hendak memasuki ruangan. Kami duduk
bersebelahan. Ia yang menanyaiku lebih dulu: “Baru pertama?” aku mengangguk.
“Pantas saja. Hehe. Tenang saja, kau tak sendirian. Aku juga kali pertama kok”
terusnya dengan santai. Dan sejak itu kami akrab. Yang membuatku kagum adalah
pengakuannya tentang pekerjaan. Ia saat itu mengaku sebagai pedagang sembako.
Membuka stan kecil di pasar tradisional Porong. Kalau mengajak keluar pun,
paling mewah diajak ke junkfood di
mall-mall. Selebihnya, lapak kaki lima-lah yang
menjadi tempat. Hanya beberapa bulan belakangan saja ia sering
mengajakku ke restoran ternama. Dan aku baru tau bahwa ia adalah salah satu
pengusaha importir terkaya di kota ini dari koran sebulan lalu. Profilnya
ditulis di koran lokal dalam rubrik inspirasi muda. Ketika kutanya mengapa ia
selama ini menyembunyikan identitasnya, ia hanya tersenyum mengangkat bahu.
Lalu dia berbisik:”kalau gak sembunyi, mana bisa saling mengusap tangan yang
masih bersisa sambal penyetan lele denganmu” dia lalu tertawa sumringah.
***
Kenanganku perlahan berhenti. Seiring berhentinya
bus oleh kemacetan jalan ketika keluar pintu tol waru, tepatnya di kawasan
pertigaan Medaeng. Suara speaker bus masih menyala. Kali ini memperdengarkan
sebuah lagu. Lagu baru menurutku. Entahlah, radio bus sejak tadi sering
memperdengarkan lagu-lagu terkini. Ah, betap jadulnya aku. Hanya mendengarkan
lagu-lagu era 90’an. Betapa tertinggalnya aku akan lagu-lagu masa kini. Mungkin
hanya beberapa saja yang kusuka.
...Dan
bernyanyilah
Senandungkan
isi suara hati
Bila
kau terluka ...
Lirik lagu terdengar menyenangkan. Pas dengan alunan
musik dan suara vokal yang sepertinya kukenal. Suara Fadly mungkin, aku
menebak. Penasaran, aku pun mengaktifkan aplikasi penelusuran suara dari HP
androidku. Klik. Dan beberapa saat kemudian muncul beberapa nama. MUSIKIMIA.
Itu kata yang banyak muncul dari mesin pencari. Aku meng-klik salah satu
link-nya. Ternyata benar. Nama itu adalah nama band yang digawangi oleh
personil PADI. Sebuah kebetulan yang indah.
Aku pun mencoba berdamai dengan kenyataan. Setelah
bergumul menenggelamkan diri dalam kenangan di hampir sepanjang perjalanan
tadi. Aku tersenyum. Kenapa harus larut tenggelam dalam sedih, jika tersenyum
lebih bisa dinikmati. Kenapa harus mengalihkan perhatian, menenggelamkan diri
pada pekerjaan, jika menyimpan kenangan lebih mudah dilakukan. Dari lagu itu
pun aku menghayati kembali kata-kata terakhir yang diucapkannya di malam itu:
“cinta adalah kerelaan untuk menerima atau melepaskan, bahagia kita adalah
simfoni, musik yang selalu mengalun...” yah, aku memahamimu sayang, bahagia
kita adalah simfoni. Musik yang selalu mengalun. Sebagaimana musik PADI yang
bertransformasi. Sebagaimana MUSIKIMIA yang meramu berbagai rasa membentuk
sebuah rasa yang teramat indah. Musik, yang selalu mengalun. Seperti hidup yang
akan terus berjalan, takkan pernah menunggu kenangan menjadi seperti apa yang
seharusnya kita inginkan.
Dengarkanlah
alunan lagu yang menyembuhkan lara hati
Warnai
hidupmu kembali
Menarilah
. . . Bernyanyilah . . .
Jika PADI saja bisa move on jadi MUSIKIMIA, kenapa kau terus bergelut dengan kenangan?
*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing
Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia dan Nulisbuku.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar