Sore
itu di ruang makan, seperti biasa suasana makan Paijo bersama mak-nya
selalu diselingi perbincangan santai. Tapi meskipun santai, kali ini
tema perbincangannya menurut mereka agak serius karena menyangkut
paham yang mereka yakini. Paijo adalah seorang mahasiswa moderat,
sedangkan mak-nya ortodoks dan belum rela anaknya menentukan jalannya
sendiri.
“ .
. . Sebenarnya aku nggak pengen seperti ini, mak.
Aku nggak pengen mengemis – tunduk pada mereka hanya untuk
mendapat label-label internasional”
“Lah
terus maumu apa toh, le?”
“Aku
cuma mau diperhatikan saja mak
sama orang-orang yang dibilang sukses itu.”
“Oh,
kenapa? Mak kurang
perhatian sama kamu?”
“Bukan
begitu, mak.
Tapi perhatian mereka itu lain, mak.
Mak nggak
tau sih ...”
“Lainnya
bagaimana toh, le?
Apa mak kurang
menyediakan makanan untukmu? Uang jajanmu kurang? Bukankah di kebun
sudah tersedia apapun yang kau mau? Tongkat kayu dan batu bisa jadi
makanan, tinggal pilih apa saja toh, le?”
“Justru
itu mak aku
merasa kekurangan.”
“Kamu
itu aneh, le.
Lha wong orang-orang yang dibilang sukses itu saja tak hentinya
merayu mak
agar mau menjual kebun itu, ingin beli baju-baju mak.
kok kamu malah ingin diperhatikan mereka, ingin tinggal bersama
mereka, ingin meniru gaya mereka?”
“Ah,
itu semua kan sudah kuno, mak.
Sudah usang, jadul. Mereka ingin membeli itu supaya dikelola jadi
lebih modern, mak.
Mereka sebenarnya mau menolong mak.
Jaman mak
sama jamanku beda, mak.
Aku harus ikuti gaya mereka. Kalau kebun mak
dikelola dengan cara tradisional, mak
bakal terkucilkan dari dunia internasional. Eksistensi mak
gak akan diakui lagi oleh mereka. Makannya mereka ingin membeli biar
mak
gak dikucilkan dunia internasional. Coba lihat Korea Utara, Iran,
terbukti kan mak,
mereka dikucilkan.”
“Lah
terus maunya bagaimana biar kamu ndak
merengek lagi pada mereka, mak
malu, le”
“Kenapa
mak
harus malu. Ya jual saja kebun mak,
toh mak
kan mengelola seadanya saja, sesuai kebutuhan mak
saja. Sayang mak
kalau tak diekspoitasi biar dapat keuntungan sebanyaknya. Pakaian,
alat dapur, alat musik, dan yang lain jual aja mak biar mereka
kelola. Jadi, nanti kalo udah di tangan mereka barang-barang itu jadi
terkenal, jadi berlabel internasional. Toh, mereka akan masih
mengungumkan bahwa barang-barang itu dibeli dari mak. Mak juga gak
bakal dikucilkan dunia internasional, mak.
Mak untung, mereka juga untung.”
“Apa
benar begitu, le? Bukankah ladang emas yang ada di papua yang sudah
dijual bapakmu pada orang-orang sukses itu dibilang dan diakui
sebagai milik mereka, le? Lah terus kamu makan apa? Bagaimana kamu
bisa main musik? Pakaianmu apa?”
“Itu
beda ceritanya, mak.
Panjang – gak bisa disama-samakan dengan penjualan pakaian, musik,
seni, makanan. Pakaianku ya yang pake dasi-dasi itu mak
biar sama dengan yang
mereka kenakan, musikku ya kusesuaikan dengan platform dan genre
kesukaan mereka, makanan juga harus kusesuaikan, mak.
Kalau dulu gethuk dibungkus daun pisang, sekarang harus kubungkus
dengan plastik yang kubeli dari mereka, mak.
Dengan begitu, mereka akan memperhatikanku. Mereka akan memberiku
label internasional seperti agnes monica gitu, mak.
Coba lihat, gaya agnes yang modern itu – yang lagunya mendunia itu,
yang menjadi pembawa acara di ajang penghargaan bergengsi para
penyanyi internasional itu. Mak
nggak pengen anaknya go internasional sama kayak agnes gitu?”
“Siapa
yang tidak ingin anaknya berprestasi, le.
Tapi mbok yoh
tidak dengan meniru-niru begitu, apa tidak bisa?”
“Mak
ini gimana, ya nggak bisa toh mak.
Mak
itu harus menyesuaikan diri, kita hidup ini di jaman globalisasi mak.
Kalau Cuma mengandalkan nilai-nilai lokal, mak
nggak akan dilirik mak.”
“Ya
jelas gak dilirik, le.
Lah Wong mak sudah
keriput.”
“Bukan
gitu mak.
Meski keriput kalau dipoles, mereka bakal memberi mak
label internasional, mak.”
“Wes
mbuh le, kamu ngeyel
terus. Sekarang terserah kamu, mau jungkir-balik, mau berdasi, mau
mbungkus
burger pakai daun pisang, terserah. Kamu mau jual kebun warisan mak,
terserah. Mak
hanya mengingatkan, boleh semua kamu jual – asal bukan dirimu yang
kamu jual untuk dijadikan mereka robot yang diprogam untuk meniru
kemauan si pemrogam hanya untuk label internasional.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar