TUGIEZLAND

Kamis, 14 Maret 2013

LABEL INTERNASIONAL

Sore itu di ruang makan, seperti biasa suasana makan Paijo bersama mak-nya selalu diselingi perbincangan santai. Tapi meskipun santai, kali ini tema perbincangannya menurut mereka agak serius karena menyangkut paham yang mereka yakini. Paijo adalah seorang mahasiswa moderat, sedangkan mak-nya ortodoks dan belum rela anaknya menentukan jalannya sendiri.

. . . Sebenarnya aku nggak pengen seperti ini, mak. Aku nggak pengen mengemis – tunduk pada mereka hanya untuk mendapat label-label internasional”
Lah terus maumu apa toh, le?”
Aku cuma mau diperhatikan saja mak sama orang-orang yang dibilang sukses itu.”
Oh, kenapa? Mak kurang perhatian sama kamu?”
Bukan begitu, mak. Tapi perhatian mereka itu lain, mak. Mak nggak tau sih ...”
Lainnya bagaimana toh, le? Apa mak kurang menyediakan makanan untukmu? Uang jajanmu kurang? Bukankah di kebun sudah tersedia apapun yang kau mau? Tongkat kayu dan batu bisa jadi makanan, tinggal pilih apa saja toh, le?”
Justru itu mak aku merasa kekurangan.”
Kamu itu aneh, le. Lha wong orang-orang yang dibilang sukses itu saja tak hentinya merayu mak agar mau menjual kebun itu, ingin beli baju-baju mak. kok kamu malah ingin diperhatikan mereka, ingin tinggal bersama mereka, ingin meniru gaya mereka?”
Ah, itu semua kan sudah kuno, mak. Sudah usang, jadul. Mereka ingin membeli itu supaya dikelola jadi lebih modern, mak. Mereka sebenarnya mau menolong mak. Jaman mak sama jamanku beda, mak. Aku harus ikuti gaya mereka. Kalau kebun mak dikelola dengan cara tradisional, mak bakal terkucilkan dari dunia internasional. Eksistensi mak gak akan diakui lagi oleh mereka. Makannya mereka ingin membeli biar mak gak dikucilkan dunia internasional. Coba lihat Korea Utara, Iran, terbukti kan mak, mereka dikucilkan.”
Lah terus maunya bagaimana biar kamu ndak merengek lagi pada mereka, mak malu, le
Kenapa mak harus malu. Ya jual saja kebun mak, toh mak kan mengelola seadanya saja, sesuai kebutuhan mak saja. Sayang mak kalau tak diekspoitasi biar dapat keuntungan sebanyaknya. Pakaian, alat dapur, alat musik, dan yang lain jual aja mak biar mereka kelola. Jadi, nanti kalo udah di tangan mereka barang-barang itu jadi terkenal, jadi berlabel internasional. Toh, mereka akan masih mengungumkan bahwa barang-barang itu dibeli dari mak. Mak juga gak bakal dikucilkan dunia internasional, mak. Mak untung, mereka juga untung.”
Apa benar begitu, le? Bukankah ladang emas yang ada di papua yang sudah dijual bapakmu pada orang-orang sukses itu dibilang dan diakui sebagai milik mereka, le? Lah terus kamu makan apa? Bagaimana kamu bisa main musik? Pakaianmu apa?”
Itu beda ceritanya, mak. Panjang – gak bisa disama-samakan dengan penjualan pakaian, musik, seni, makanan. Pakaianku ya yang pake dasi-dasi itu mak biar sama dengan yang mereka kenakan, musikku ya kusesuaikan dengan platform dan genre kesukaan mereka, makanan juga harus kusesuaikan, mak. Kalau dulu gethuk dibungkus daun pisang, sekarang harus kubungkus dengan plastik yang kubeli dari mereka, mak. Dengan begitu, mereka akan memperhatikanku. Mereka akan memberiku label internasional seperti agnes monica gitu, mak. Coba lihat, gaya agnes yang modern itu – yang lagunya mendunia itu, yang menjadi pembawa acara di ajang penghargaan bergengsi para penyanyi internasional itu. Mak nggak pengen anaknya go internasional sama kayak agnes gitu?”
Siapa yang tidak ingin anaknya berprestasi, le. Tapi mbok yoh tidak dengan meniru-niru begitu, apa tidak bisa?”
Mak ini gimana, ya nggak bisa toh mak. Mak itu harus menyesuaikan diri, kita hidup ini di jaman globalisasi mak. Kalau Cuma mengandalkan nilai-nilai lokal, mak nggak akan dilirik mak.”
Ya jelas gak dilirik, le. Lah Wong mak sudah keriput.”
Bukan gitu mak. Meski keriput kalau dipoles, mereka bakal memberi mak label internasional, mak.”
Wes mbuh le, kamu ngeyel terus. Sekarang terserah kamu, mau jungkir-balik, mau berdasi, mau mbungkus burger pakai daun pisang, terserah. Kamu mau jual kebun warisan mak, terserah. Mak hanya mengingatkan, boleh semua kamu jual – asal bukan dirimu yang kamu jual untuk dijadikan mereka robot yang diprogam untuk meniru kemauan si pemrogam hanya untuk label internasional.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar