TUGIEZLAND

Rabu, 27 Maret 2013

Yang Berkuasa Memimpin


Paijo itu memang raja ngeyel, tapi ngeyelnya tak pernah berlandasan. Ia mengkritik sesukanya. Jangan pernah membahas teori-teori ilmiah dengannya, karena sejelas apapun bukti empririsnya, segamblang apapun kita tunjukkan kecocokannya dengan realitas, dan serelevan apapun untuk diterapkan, dia akan tetap ngeyel. Dia akan membuat kita jengkel, terlebih jika kita balas ngeyeli dengan teori  ilmiah – cukup biarkan dia ngedhumel sendiri, mengingau, menghayal dengan dunianya sendiri. Dijamin, kejengkelan itu sekejap berubah jadi tawa seperti kita baru saja melihat orang gila yang mengatakan pada kita bahwa kita sedang gila.

Adiknya, Paiman sudah tak heran lagi dengan tingkah Paijo. Tapi tak jarang Paiman juga kesal dengan kritikan Paijo terhadapnya. Pas lagi kesal, Paiman masih saja terbawa dendam lamanya semasa kecil – meski ia mengelak jika dikatakan menyimpan dendam pada Paijo. Waktu kecil, Paijo pernah memaksanya meminjamkan mobil-mobilan yang baru saja ia beli dari hasil nabungnya selama berbulan-bulan. Bukan kali ini saja paijo memaksanya meminjamkan mainan miliknya, Paiman selalu mengalah pada kakak kembarannya itu. Tapi karena mobil-mobilan itu bukan dibelikan sendiri oleh ayahnya, Paiman tak mau begitu saja mengalah. Perebutan terjadi, dan roda mobil-mobilan itu patah hingga tak sebagus semula meski bisa diperbaiki oleh ayahnya – ngglindingnya tak seperti saat baru.

Selulusnya dari Universitas Kritikcospleng jurusan ilmu penjilatan, Paijo kembali ke desanya : Nusakhayal, dan menjabat sebagai Pemimpin Desa alias Kepala Desa. Bagi Paijo, pemimpin itu identik dengan kekuasaan. “Kalau tak punya kekuasaan, bagaimana bisa memimpin, mempengaruhi, mengendalikan?” ungkapnya. Mungkin pikiran itu tertanam sejak ia kecil, ia selalu dimanja orang tuanya. Kalau ia pengen mempunyai kendali untuk memainkan mainan yang ia suka, ia harus bisa merebutnya dulu dari adiknya, Paiman.

Sementara Paiman tidak juga nggenah-nggenah, usai lulus dari Pesantren Notobatin – ia hanya jadi seorang yang lelaku, mbambung, sok sufi, sok nyeramahi, wong nyatanya jadi ustad saja nggak. Dan tetangganya menganggap ia sudah gila. Pun begitu, paijo tetap empati padanya dan masih tetap menganggapnya sebagai adik kembarnya.

Paiman sering debat kusir dengan Paijo. Kalau saat kecil dulu mereka sering berebut mainan, kini mereka berebut ngomong. Apa saja bisa mereka perdebatkan, dari masalah yang kasat mata seperti skandal proyek pembangunan Kompleks Olahraga Gemblelengan, skandal cinta bayan Ageng Kifrit, rencana peradilan HAM untuk aktivis korban masa peralihan Pak Lurah Sudrun yang otoritarian itu, atau juga masalah Satpam dan HANSIP Desa yang belakangan ini sering pentung-pentungan – sampai masalah tak kasat mata seperti ilmu perdukunan, persantetan, perklenikan, perbatinan. Dan yang baru kemarin mereka perdebatkan adalah soal undang-undang untuk mengatur kehidupan bangsa halus (pocong, genderuwo, sundel bocor, suster sabunan, suster mbrangkang, dsb) yang sekarang lagi tenar-tenarnya di desa mereka. Mereka sepakat untuk menganggap penting kehidupan bangsa halus itu untuk diregulasikan dalam Undang-Undang Kemasyarakatan Desa. Karena selama ini Undang-Undang Kemasyarakatan Desa hanya mengatur manusia saja, padahal masyarakat desa Nusakhayal tak hanya dari bangsa manusia saja. Namun meski sepakat mengenai rencana itu, hingga hari ini mereka belum sepakat soal prosedural dan pelaksanaannya.

Perdebatan mereka selalu kandas dan tak pernah membuahkan solusi. Belum selesai soal Undang-Undang Kemasyarakatan Desa tentang bangsa makhluk halus, mereka hari ini beralih ke lain soal lagi, mereka berdebat soal kepemimpinan. Paiman menganggap Paijo salah kaprah dalam mengartikan kepemimpinan. Sementara Paijo kukuh dengan argumentasinya, dengan berbagai ilmu yang ia dapat saat kuliah – ia menangkal tuduhan Paiman dan menganggap Paiman lah yang salah kaprah.

“Man, kamu itu mbok ya cari kerja sana, biar nggak mbambung kayak gini. Malu dilihat tetangga. Kamu mau nggak tak jadikan mudin, biar ilmu pesantrenmu bermanfaat?”

“Halah Jo, manfaat buat siapa? Justru membawa musibah, Jo. Bukannya ini Nepotisme?”

“Ah, kamu ini pake bicara nepotisme segala. Panganan opo iku? Musibah yang gimana? Wis nggak usah sok pinter, kamu belajar di pesantren bertahun-tahun biar ilmumu bermanfaat toh? Biar bisa memberi pengaruh pada akhlak masyarakat?

“Yo jelas gitu Jo”

“Lah terus apalagi yang kamu risaukan?”

“Apa nggak bisa sekali saja kamu nggak menggunakan kekuasaan untuk mempengaruhi orang? Dikit-dikit kok pengennya nyeret aku jadi mudin, mentang-mentang kamu lagi jadi Kepala Desa, seenaknya menyeret adikmu jadi mudin resmi desa.”

“Maaan.. Man. Aku percaya kamu lulusan pesantren ternama, tapi mana bisa ilmumu bermanfaat, bisa mempengaruhi akhlak orang kalau kamu nggak mau jadi mudin? Gimana orang bisa percaya bahwa orang mbambung kayak kamu itu lulusan pesantren ternama?”

“Lah mosok memberi pengaruh harus jadi mudin dulu? Apa untuk bisa nyetir mobil harus punya mobil dulu?”

“Ya jelas begitu, Man. Kalau hanya bisa nyetir nggak punya mobil, apa yang mau kau setir? Siapa yang mau kamu kendalikan tanpa punya kekuasaan? Mana bisa orang-orang terpengaruh denganmu yang tak punya apa-apa?”

“Lah sopir-sopir itu masak yang punya mobil, ndak toh? Mereka hanya bekerja untuk mengendalikan mobil juragannya. Apa Nabi Muhammad merebut Makkah untuk dikuasai dulu, lalu baru menyebarkan pengaruhnya?”

“Repot sama orang ngeyel sepertimu, Man. Pake bawa-bawa nama Nabi segala. Ini urusan kepemimpinan, urusan organisasi desa, urusan manajemen profesional. Jangan nyeret-nyeret soal Nabi, beliau manusia khusus, nggak bisa kita nyamain. Ini urusan masa depan desa, masa depanmu Man.”

“Loh, bukannya kamu jo yang suka ngeyel? Kamu kan lulusan Universitas Kritikcospleng yang lulusannya banyak terkenal karena sikap ngeyelnya itu?  Oke, aku ndak bawa-bawa nama Nabi lagi, nanti malah berabe karena ilmuku nggak nututi. Tapi, mosok sih untuk jadi sopir harus punya mobil dulu? Apa dengan hanya memberi teladan saja tidak cukup untuk mempengaruhi dan mengendalikan orang?”

“Untuk mempengaruhi, oke – ada kemungkinan masih bisa. Tapi untuk mengendalikan, saya rasa kau tak akan bisa. Dalam organisasi desa kita ini, dibutuhkan orang-orang yang kredibel, yang profesional, yang memenuhi kriteria sesuai dengan porsi yang dibutuhkan untuk tata kelola dan pengendalian masyarakat desa. Lah kalau kamu hanya sebatas mempengaruhi, ndak punya kapasitas, kewenangan, kekuasaan, bagaimana kamu bisa mengendalikan aspirasi dan kepentingan masyarakat, merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan untuk mereka?

“Loh..sik, sik. Bukannya rakyat memegang kewenangan penuh untuk merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan? Sekarang desa kita sudah demokratis kan? Nggak seperti jaman pak lurah Sudrun dulu yang cenderung tertutup?”

“Memang benar begitu, tapi yang melegalkan siapa? tetap pengurus desa kan? Tetap orang-orang yang punya kekuasaan kan? Jadi, wis manuto wae. Toh enak jadi mudin, bayarannya lumayan daripada kamu mbambung gini. Ilmu kepemimpinan modern yang menyatakan bahwa pengaruh bisa disebarkan saat kamu punya kekuasaan itu ternyata benar dan bisa dibuktikan. Coba lihat di pabrik-pabrik itu, para manajer itu – mereka diberi kekuasaan dulu baru menyebar pengaruhnya untuk memberi perintah pada bawahan, bukan sebaliknya. Lah kalau kamu jadi karyawan disana, ujug-ujug memberi pengaruh dan perintah pada orang-orang, mana mau mereka. Beda halnya kalau kamu diberi kepercayaan pemilik pabrik untuk mengelola pabriknya. Artinya kamu diberi kekuasaan, maka kamu bisa leluasa menyebar pengaruh atau memberi perintah pada mereka untuk dilaksanakan.”

Paiman sejenak diam, dahinya mengernyit keheranan. Baru kali ini ia mendengar Paijo setuju dengan teori-teori ilmiah. Padahal biasanya Paijo selalu ngeyel dan menentang teori-teori itu.

“Tapi itu kan pabrik, jelas bertentangan dengan organisasi desa kan Jo? Pabrik mindsetnya mencari keuntungan, desa mindsetnya pelayanan. Pabrik menguasai dulu baru menyebar pengaruh, kalau nggak punya kekuasaan, minimal modal untuk menjual barang – mana bisa ia mempengaruhi konsumen? Nah, kalau desa? ... –   Tapi mindset pabrik yang berlandaskan teori kepemimpinan modernmu itu juga agak membingungkan, Jo. Kadang tanpa modal (maksudnya dengan modal minim, atau hanya dengan modal – maaf, ‘cangkem’ ), hanya mengandalkan teknik penjualan (menyebarkan pengaruh) saja – bisa, lantas modalnya bertambah, dan beberapa lama kemudian ia mendirikan pabrik (punya kekuasaan) sehingga ia jadi seorang manajer yang bisa leluasa mempengaruhi, mengendalikan, dan menguasai pasar konsumen serta karyawannya. Ia menyebar pengaruh dulu baru berkuasa kan? Dan satu hal lagi yang membingungkan, pabrik mindsetnya cenderung untuk menguasai pasar, dan menguasai identik dengan ‘memaksa’ – biar itu secara persuasif, ataupun dengan cara yang lebih transparan lagi – seperti saat kamu ingin merebut dan menguasai mobil-mobilanku dulu. Apa desa juga seperti itu, Jo? Kamu kan lulusan Universitas Kritikcospleng. Kamu selalu unjuk rasa saat kuliah dulu, kamu bilang pemerintah nggak bener ngurusi negara. Sekarang aku justru bingung sama sikapmu, Jo?”

“Ah, kamu ini berbelit, sok humanis, sok filantropis saja kamu ini. Kekuasaan bukan identik memaksa. Kekuasaan itu sebagai alat untuk mengendalikan – kalau di desa itu namanya aspirasi masyarakat. Aspirasi dan kepentingan masyarakat yang sedemikian kompleks harus dikendalikan supaya nggak berbenturan satu sama lain. Lah kalau nggak ada penguasa, nggak ada pemimpin legal yang punya kewenangan, gimana bisa? Gimana bisa seseorang yang hanya menyebarkan pengaruhnya dengan keteladanan tanpa punya kekuasaan – bisa mengendalikan kompleksitas kepentingan masyarakat desa? Sudah, jangan ngaco lagi, jangan naif kamu itu, yang realistis. Kamu ini belum tahu hingar-bingar nafas desa. Sekarang saja kamu mbambung. Gimana bisa orang percaya dan mengikuti atau minimal terpengaruh olehmu? Sudah, kalau kamu masih ingin menyebarkan pengaruhmu, masih ingin ilmumu bermanfaat – kamu jadi mudin dulu, atau nanti kalau masa jabatanku habis kamu menggantikanku sebagai kades, mau?”

Paiman tak menjawab, pikirannya kacau. Matanya hanya menerawang jauh menembus langit-langit rumah Paijo yang mewah itu. lampu gantung berlapis emas yang cantik, nampak suram di mata Paiman, pikirannya keruh oleh banyak pertanyaan “ Kenapa harus kekuasaan dulu baru mempengaruhi?” pikirnya menimbang-nimbang. Paijo sudah kelelahan meladeni adik kembarnya yang ternyata lebih ngeyel darinya itu. Paijo beranjak dari tempat duduknya dan mengacaukan lamunan Paiman “wes, ojok dibatin terus, kesambet suster mbrangkang koe ngkok. Ayo makan dulu” cerususnya sambil melangkah ke ruang makan. Paiman beranjak dari tempat duduknya dengan masih membawa banyak pertanyaan yang hampir membuatnya gila. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar