Paijo itu memang raja ngeyel,
tapi ngeyelnya tak pernah berlandasan. Ia mengkritik sesukanya. Jangan pernah
membahas teori-teori ilmiah dengannya, karena sejelas apapun bukti empririsnya,
segamblang apapun kita tunjukkan kecocokannya dengan realitas, dan serelevan
apapun untuk diterapkan, dia akan tetap ngeyel. Dia akan membuat kita jengkel,
terlebih jika kita balas ngeyeli dengan teori ilmiah – cukup biarkan dia ngedhumel
sendiri, mengingau, menghayal dengan dunianya sendiri. Dijamin, kejengkelan itu
sekejap berubah jadi tawa seperti kita baru saja melihat orang gila yang
mengatakan pada kita bahwa kita sedang gila.
Adiknya, Paiman sudah tak heran
lagi dengan tingkah Paijo. Tapi tak jarang Paiman juga kesal dengan kritikan
Paijo terhadapnya. Pas lagi kesal,
Paiman masih saja terbawa dendam lamanya semasa kecil – meski ia mengelak jika
dikatakan menyimpan dendam pada Paijo. Waktu kecil, Paijo pernah memaksanya
meminjamkan mobil-mobilan yang baru saja ia beli dari hasil nabungnya selama berbulan-bulan. Bukan
kali ini saja paijo memaksanya meminjamkan mainan miliknya, Paiman selalu
mengalah pada kakak kembarannya itu. Tapi karena mobil-mobilan itu bukan
dibelikan sendiri oleh ayahnya, Paiman tak mau begitu saja mengalah. Perebutan terjadi,
dan roda mobil-mobilan itu patah hingga tak sebagus semula meski bisa
diperbaiki oleh ayahnya – ngglindingnya
tak seperti saat baru.
Selulusnya dari Universitas
Kritikcospleng jurusan ilmu penjilatan, Paijo kembali ke desanya : Nusakhayal,
dan menjabat sebagai Pemimpin Desa alias Kepala Desa. Bagi Paijo, pemimpin itu
identik dengan kekuasaan. “Kalau tak punya kekuasaan, bagaimana bisa memimpin,
mempengaruhi, mengendalikan?” ungkapnya. Mungkin pikiran itu tertanam sejak ia
kecil, ia selalu dimanja orang tuanya. Kalau ia pengen mempunyai kendali untuk memainkan mainan yang ia suka, ia
harus bisa merebutnya dulu dari adiknya, Paiman.
Sementara Paiman tidak juga nggenah-nggenah, usai lulus dari Pesantren
Notobatin – ia hanya jadi seorang yang lelaku,
mbambung, sok sufi, sok nyeramahi, wong
nyatanya jadi ustad saja nggak. Dan
tetangganya menganggap ia sudah gila. Pun begitu, paijo tetap empati padanya
dan masih tetap menganggapnya sebagai adik kembarnya.
Paiman sering debat kusir dengan
Paijo. Kalau saat kecil dulu mereka sering berebut mainan, kini mereka berebut
ngomong. Apa saja bisa mereka perdebatkan, dari masalah yang kasat mata seperti
skandal proyek pembangunan Kompleks Olahraga Gemblelengan, skandal cinta bayan
Ageng Kifrit, rencana peradilan HAM untuk aktivis korban masa peralihan Pak Lurah
Sudrun yang otoritarian itu, atau juga masalah Satpam dan HANSIP Desa yang
belakangan ini sering pentung-pentungan – sampai masalah tak kasat mata seperti ilmu
perdukunan, persantetan, perklenikan, perbatinan. Dan yang baru kemarin mereka
perdebatkan adalah soal undang-undang untuk mengatur kehidupan bangsa halus
(pocong, genderuwo, sundel bocor, suster sabunan, suster mbrangkang, dsb) yang sekarang lagi tenar-tenarnya di desa mereka.
Mereka sepakat untuk menganggap penting kehidupan bangsa halus itu untuk
diregulasikan dalam Undang-Undang Kemasyarakatan Desa. Karena selama ini Undang-Undang
Kemasyarakatan Desa hanya mengatur manusia saja, padahal masyarakat desa
Nusakhayal tak hanya dari bangsa manusia saja. Namun meski sepakat mengenai
rencana itu, hingga hari ini mereka belum sepakat soal prosedural dan pelaksanaannya.
Perdebatan mereka selalu kandas
dan tak pernah membuahkan solusi. Belum selesai soal Undang-Undang
Kemasyarakatan Desa tentang bangsa makhluk halus, mereka hari ini beralih ke
lain soal lagi, mereka berdebat soal kepemimpinan. Paiman menganggap Paijo
salah kaprah dalam mengartikan kepemimpinan. Sementara Paijo kukuh dengan
argumentasinya, dengan berbagai ilmu yang ia dapat saat kuliah – ia menangkal
tuduhan Paiman dan menganggap Paiman lah yang salah kaprah.
“Man, kamu itu mbok ya cari kerja sana, biar nggak
mbambung kayak gini. Malu dilihat tetangga. Kamu mau nggak tak jadikan mudin, biar ilmu pesantrenmu bermanfaat?”
“Halah Jo, manfaat buat siapa?
Justru membawa musibah, Jo. Bukannya ini Nepotisme?”
“Ah, kamu ini pake bicara
nepotisme segala. Panganan opo iku?
Musibah yang gimana? Wis nggak usah
sok pinter, kamu belajar di pesantren bertahun-tahun biar ilmumu bermanfaat toh? Biar bisa memberi pengaruh pada
akhlak masyarakat?”
“Yo jelas gitu Jo”
“Lah terus apalagi yang kamu
risaukan?”
“Apa nggak bisa sekali saja kamu
nggak menggunakan kekuasaan untuk mempengaruhi orang? Dikit-dikit kok pengennya
nyeret aku jadi mudin, mentang-mentang kamu lagi jadi Kepala Desa, seenaknya
menyeret adikmu jadi mudin resmi desa.”
“Maaan.. Man. Aku percaya kamu
lulusan pesantren ternama, tapi mana bisa ilmumu bermanfaat, bisa mempengaruhi
akhlak orang kalau kamu nggak mau jadi mudin? Gimana orang bisa percaya bahwa orang
mbambung kayak kamu itu lulusan pesantren ternama?”
“Lah mosok memberi pengaruh harus jadi mudin dulu? Apa untuk bisa nyetir
mobil harus punya mobil dulu?”
“Ya jelas begitu, Man. Kalau
hanya bisa nyetir nggak punya mobil, apa yang mau kau setir? Siapa yang mau
kamu kendalikan tanpa punya kekuasaan? Mana bisa orang-orang terpengaruh denganmu
yang tak punya apa-apa?”
“Lah sopir-sopir itu masak yang
punya mobil, ndak toh? Mereka hanya
bekerja untuk mengendalikan mobil juragannya. Apa Nabi Muhammad merebut Makkah
untuk dikuasai dulu, lalu baru menyebarkan pengaruhnya?”
“Repot sama orang ngeyel
sepertimu, Man. Pake bawa-bawa nama Nabi segala. Ini urusan kepemimpinan,
urusan organisasi desa, urusan manajemen profesional. Jangan nyeret-nyeret soal
Nabi, beliau manusia khusus, nggak bisa kita nyamain. Ini urusan masa depan
desa, masa depanmu Man.”
“Loh, bukannya kamu jo yang suka
ngeyel? Kamu kan lulusan Universitas Kritikcospleng yang lulusannya banyak
terkenal karena sikap ngeyelnya itu?
Oke, aku ndak bawa-bawa nama Nabi
lagi, nanti malah berabe karena ilmuku nggak
nututi. Tapi, mosok sih untuk jadi sopir harus punya mobil dulu? Apa dengan
hanya memberi teladan saja tidak cukup untuk mempengaruhi dan mengendalikan
orang?”
“Untuk mempengaruhi, oke – ada
kemungkinan masih bisa. Tapi untuk mengendalikan, saya rasa kau tak akan bisa.
Dalam organisasi desa kita ini, dibutuhkan orang-orang yang kredibel, yang
profesional, yang memenuhi kriteria sesuai dengan porsi yang dibutuhkan untuk
tata kelola dan pengendalian masyarakat desa. Lah kalau kamu hanya sebatas
mempengaruhi, ndak punya kapasitas,
kewenangan, kekuasaan, bagaimana kamu bisa mengendalikan aspirasi dan
kepentingan masyarakat, merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan untuk
mereka?
“Loh..sik, sik. Bukannya rakyat memegang kewenangan penuh untuk
merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan? Sekarang desa kita sudah demokratis
kan? Nggak seperti jaman pak lurah Sudrun dulu yang cenderung tertutup?”
“Memang benar begitu, tapi yang
melegalkan siapa? tetap pengurus desa kan? Tetap orang-orang yang punya
kekuasaan kan? Jadi, wis manuto wae.
Toh enak jadi mudin, bayarannya lumayan daripada kamu mbambung gini. Ilmu
kepemimpinan modern yang menyatakan bahwa pengaruh bisa disebarkan saat kamu
punya kekuasaan itu ternyata benar dan bisa dibuktikan. Coba lihat di
pabrik-pabrik itu, para manajer itu – mereka diberi kekuasaan dulu baru
menyebar pengaruhnya untuk memberi perintah pada bawahan, bukan sebaliknya. Lah
kalau kamu jadi karyawan disana, ujug-ujug
memberi pengaruh dan perintah pada orang-orang, mana mau mereka. Beda halnya
kalau kamu diberi kepercayaan pemilik pabrik untuk mengelola pabriknya. Artinya
kamu diberi kekuasaan, maka kamu bisa leluasa menyebar pengaruh atau memberi
perintah pada mereka untuk dilaksanakan.”
Paiman sejenak diam, dahinya
mengernyit keheranan. Baru kali ini ia mendengar Paijo setuju dengan
teori-teori ilmiah. Padahal biasanya Paijo selalu ngeyel dan menentang
teori-teori itu.
“Tapi itu kan pabrik, jelas
bertentangan dengan organisasi desa kan Jo? Pabrik mindsetnya mencari
keuntungan, desa mindsetnya pelayanan. Pabrik menguasai dulu baru menyebar
pengaruh, kalau nggak punya kekuasaan, minimal modal untuk menjual barang –
mana bisa ia mempengaruhi konsumen? Nah, kalau desa? ... – Tapi
mindset pabrik yang berlandaskan teori kepemimpinan modernmu itu juga agak
membingungkan, Jo. Kadang tanpa modal (maksudnya dengan modal minim, atau
hanya dengan modal – maaf, ‘cangkem’ ), hanya mengandalkan
teknik penjualan (menyebarkan pengaruh) saja – bisa, lantas modalnya bertambah,
dan beberapa lama kemudian ia mendirikan pabrik (punya kekuasaan) sehingga ia
jadi seorang manajer yang bisa leluasa mempengaruhi, mengendalikan, dan
menguasai pasar konsumen serta karyawannya. Ia menyebar pengaruh dulu baru
berkuasa kan? Dan satu hal lagi yang membingungkan, pabrik mindsetnya cenderung
untuk menguasai pasar, dan menguasai identik dengan ‘memaksa’ – biar itu secara
persuasif, ataupun dengan cara yang lebih transparan lagi – seperti saat kamu
ingin merebut dan menguasai mobil-mobilanku dulu. Apa desa juga seperti itu,
Jo? Kamu kan lulusan Universitas Kritikcospleng. Kamu selalu unjuk rasa saat
kuliah dulu, kamu bilang pemerintah nggak bener ngurusi negara. Sekarang aku justru bingung sama sikapmu, Jo?”
“Ah, kamu ini berbelit, sok
humanis, sok filantropis saja kamu ini. Kekuasaan bukan identik memaksa.
Kekuasaan itu sebagai alat untuk mengendalikan – kalau di desa itu namanya
aspirasi masyarakat. Aspirasi dan kepentingan masyarakat yang sedemikian
kompleks harus dikendalikan supaya nggak berbenturan satu sama lain. Lah kalau
nggak ada penguasa, nggak ada pemimpin legal yang punya kewenangan, gimana
bisa? Gimana bisa seseorang yang hanya menyebarkan pengaruhnya dengan
keteladanan tanpa punya kekuasaan – bisa mengendalikan kompleksitas kepentingan
masyarakat desa? Sudah, jangan ngaco
lagi, jangan naif kamu itu, yang realistis. Kamu ini belum tahu hingar-bingar
nafas desa. Sekarang saja kamu mbambung. Gimana bisa orang percaya dan
mengikuti atau minimal terpengaruh olehmu? Sudah, kalau kamu masih ingin
menyebarkan pengaruhmu, masih ingin ilmumu bermanfaat – kamu jadi mudin dulu,
atau nanti kalau masa jabatanku habis kamu menggantikanku sebagai kades, mau?”
Paiman tak menjawab, pikirannya kacau.
Matanya hanya menerawang jauh menembus langit-langit rumah Paijo yang mewah
itu. lampu gantung berlapis emas yang cantik, nampak suram di mata Paiman,
pikirannya keruh oleh banyak pertanyaan “ Kenapa harus kekuasaan dulu baru
mempengaruhi?” pikirnya menimbang-nimbang. Paijo sudah kelelahan meladeni adik
kembarnya yang ternyata lebih ngeyel darinya itu. Paijo beranjak dari tempat
duduknya dan mengacaukan lamunan Paiman “wes,
ojok dibatin terus, kesambet suster
mbrangkang koe ngkok. Ayo makan dulu” cerususnya sambil melangkah ke ruang
makan. Paiman beranjak dari tempat duduknya dengan masih membawa banyak
pertanyaan yang hampir membuatnya gila. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar