Kemarin, 2 Mei
2013, adalah hari yang ditetapkan sebagai hari pendidikan. Namun, tiap tahunnya
hal ini hanya menjadi semacam seremonial saja. Beberapa minggu lalu, wajah
pendidikan kita babak-belur oleh macetnya (jika bukan gagalnya) penyelenggaraan
Ujian Nasional (UN). Hal ini membuat banyak orang prihatin. Pasalnya, kekacauan
ini adalah pertama kalinya yang terjadi sejak diselenggarakannya UN yang sempat
beberapa kali berubah nama dan sistemnya tersebut. Tak ayal, sorotan media dan
spekulasi bermunculan.
Dalam buku “Pemimpin yang Pelayan”, M.Alfan Alfian mengisahkan kembali khotbah
sholat jum’at yang pernah didengarnya. Dalam khotbah itu dikisahkan
segerombolan santri dengan busana jubah rapi sedang berjalan cepat menuju
masjid. Di perempatan jalan mereka menemui mobil mogok di tengah perempatan.
Sang pengendara adalah wanita dan tidak bisa berbuat banyak. Para santri tersebut tak menghiraukan dan berlalu begitu
saja karena dalam pikiran mereka, jika membantu pengendara tersebut mendorong
mobilnya maka mereka akan telat datang ke masjid dan pahala ekstra tidak didapatkan.
Alhasil, karena si pengendara tak mampu mendorong mobilnya untuk menepi, kemacetan
pun menjalar, kendaraan-kendaraan yang hendak menuju masjid pun terjebak macet.
Sayangnya, dalam situasi seperti itu mereka saling menyalahkan. Akhirnya
seorang tukang becak baik hati membantu menepikan mobil mogok tersebut dan lalu
lintas kembali lancar. Dalam khotbah tersebut, khotib melontarakan pernyataan bahwa
yang pantas mendapat pahala ekstra adalah si tukang becak, bukan santri yang
datang lebih awal tadi.
Kisah kesemrawutan UN beberapa
waktu lalu mempunyai kemiripan dengan cerita di atas, hanya berbeda konteksnya.
Lalu siapa yang salah? Apakah Menteri Pendidikan, M.Nuh yang salah? Memang,
beliau punya kans besar untuk kita salahkan karena beliau adalah pengendara
mobil pendidikan. Tapi jika terus saling menyalahkan, bagaimana kemacetan dapat
diatasi?
Mobil pendidikan itu terlanjur
mogok memacetkan penyelenggaraan UN. Kini yang patut diprioritaskan adalah
reparasi mobil tersebut, kalau perlu onderdilnya diganti semua, tapi itu bukan
pilihan yang rasional dan efektif. Semua itu memang menjadi tanggung jawab
besar bagi pengendara mobil pendidikan untuk mengevaluasi sistem pendidikan
terutama sistem penyelenggaraan UN. Menurut Siagian dalam buku “Leadership” karangan dr.Syamsul Arifin,
salah satu ciri ideal pemimpin adalah keberanian mengambil resiko. Keberanian
disini kalau dalam istilahnya Collin Powell dalam buku “The Leadhership Secrets of Collin Powell” yang ditulis Oren Harari ,
adalah “pemimpin itu sepi”, artinya seorang pemimpin berani mengambil keputusan
yang dianggap kurang populer. Seperti apa? Misalnya merombak secara radikal
sistem pendidikan yang selama ini membuat pesertanya mempunyai anggapan bahwa
ijazah adalah tujuan, bukan pemahaman atas materi yang diajarkan. Seperti
hal-nya para santri tadi yang menganggap pahala sebagai tujuan sehingga
menghiraukan pemahaman yang lebih penting pada masalah di lingkungan
sekitarnya. Hal ini semakin dapat dirasakan dengan menjamurnya tempat kursus
yang lebih memilih mengajarkan bagaimana cara mengerjakan soal, bukan cara
memahaminya, yang penting siswa yang kursus di tempat itu nilainya baik, dan
rangking tempat kursus tersebut menjadi terangkat. Mungkin inilah yang disebut
Sudjiwo Tedjo sebagai salah satu ciri kebobrokan negara, yakni ketika hak-hak
dasar manusia seperti pendidikan dan kesehatan “diperdagangkan”.
Sikap radikal pemimpin Iran,
Ahmadinejad, yang mempunyai keberanian luar biasa untuk merombak kebobrokan
negerinya patut ditiru. Radikal disini bukanlah sikap kengeyelannya dalam mengembangkan nuklir, tapi sikap kerasnya dalam
mencari peluang-peluang untuk memajukan negerinya. Ia berani mengambil
keputusan-keputusan yang kurang populer demi kemajuan negerinya, ia pemimpin
yang berani ‘kesepian’. Dan seperti yang sekarang kita lihat, Iran, dengan
segala polemiknya, tidak dapat disangkal — mengalami kemajuan yang pesat terutama
di bidang teknologi. Iran mampu berdikari, mandiri di tengah pengucilannya dari
dunia luar terutama Amerika yang semakin memojokkan negeri itu.
Pak Nuh sebagai jenderal
pendidikan, sebenarnya sudah mengupayakan untuk merombak secara radikal sistem
pendidikan kita misalnya perombakan sistem UN agar tidak hanya menjadi semacam
alat pengkatrol kelulusan para siswa secara kolektif. Kebijakan baru pak Nuh
memang patut diapresiasi. Namun sayangnya kebijakan tersebut masih terbukti
belum mendapat dukungan manajemen yang baik, dan terbukti juga gagal dalam
penerapannya.
Ciri lain pemimpin ideal yang
diklasifikasikan oleh Siagian adalah kemampuan berkomunikasi yang efektif.
Seorang pemimpin harus bisa melakukan komunikasi yang baik dengan bawahan
sehingga bawahan mengerti apa yang
diinginkan oleh sang pemimpin untuk mencapai tujuan organisasi.
Kegagalan UN dapat menunjukkan bagaimana komunikasi yang dilakukan pak Nuh dengan
bawahannya masih kurang. Terbukti dalam banyak keterangan pers-nya pak Nuh
seakan kaget dan tidak tahu-menahu mengenai percetakan tersebut.
Ciri pemimpin ideal lainnya
adalah visioner serta mempunyai sikap yang antisipatif dan
proaktif. Pak Nuh harus berani melakukan evaluasi yang tidak hanya bersifat
praktis untuk jangka lima atau sepuluh tahun kedepan. Artinya, pak Nuh sebagai
pengendara mobil pendidikan harus berani mengambil langkah strategis untuk
kemajuan pendidikan dengan jarak pandang yang lebih jauh dan luas.
Jika berkaca pada tahun-tahun
belakangan ini, dunia pendidikan kita semakin memprihatinkan. Meski sebagian
dari peserta pendidikan mengharumkan nama Indonesia dengan prestasi-prestasi
akademik, namun semua itu hanya semacam seremonial yang tidak berdampak banyak
terhadap kemajuan Indonesia khususnya di bidang pendidikan. Para peserta didik
menurut Khusnul Mustaqim di e-book berjudul “Memandang Dunia”, banyak yang melupakan sumber (esensi)-nya .
Banyak peserta pendidikan tidak memahami untuk apa ia mengejar tujuan
(prestasi) tersebut. Kalau dibiarkan berada dalam seperti ini, sistem
pendidikan kita tidak akan banyak mencetak pemimpin yang selain pintar juga bermoral,
meskipun pelajaran tentang moral dan akhlak selalu diajarkan. Jika sistem
pendidikan hanya mengajarkan secara tekstual saja, bukan tidak mungkin kita
hanya akan melihat generasi mendatang berjalan seperti para santri tadi yang
hanya berfokus pada tujuan pribadi dan golongannya saja. Pendidikan pada
dasarnya mendidik, bukan hanya mengajarkan. Pendidikan harus mendidik
pesertanya untuk memahami apa dan bagaimana cara mencapai tujuan. Bukan hanya
mengajarkan cara-cara untuk mencapai tujuan yang tidak dipahaminya.
Metode-metode yang diajarkan pada peserta didik hendaknya tidak hanya bersifat
untuk melakukan pencarian-pencarian pada realitas semata seperti metode kuantitatif,
kualitatif, atau grounded. Metode yang diberikan pada peserta hendaknya juga
dapat diterapkan pada hal-hal abstrak dan unsur fundamental manusia yakni akal
dan nurani. Seperti metode yang dicontohkan dalam Q.S An-Nur ayat 35 yang
mengajak manusia untuk mencari cahaya di atas cahaya, nurun ala nur, mencari peluang-peluang untuk saling
mensejahterahkan yang pada nantinya menghasilkan output para pemimpin yang concern terhadap tujuan kesejahteraan
sesama manusia. Dengan begitu, output yang dihasilkan kedepannya adalah
pemimpin-pemimpin yang ideal. Bukan pemimpin yang dalam istilah Emha Ainun Nadjib
‘pemimpin yang pikun’, pemimpin yang
lupa bahwa dia ada untuk melayani rakyatnya, untuk mengayomi bawahannya, untuk
mencapai tujuan bersama, bukan tujuan pribadi dan golongannya saja. Hal ini
sangat penting, karena pendidikan merupakan salah satu dasar lahirnya pemimpin
ideal. Jika pendidikannya sudah tak menjamin keberhasilan dalam mendidik,
bagaimana peserta didiknya nanti saat menjadi pemimpin? Coba kita bertanya pada
rumput yang bergoyang . . . []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar