TUGIEZLAND

Senin, 13 Mei 2013

Untuk Sebuah Alasan


Mawar temaram
Oktober tahun lalu. . .

Apa yang aku mau darimu, itu alasan yang selama ini kucari untuk menguatkan hatiku. Andaikan aku tau, senyummu hanyalah sekedar secercah  sinar dalam kegelapan. Takkan mampu mengubahnya terang seperti mentari. Cinta itu datang tak terduga, entah karena fisikmu. Tapi, benarkah demikian? Aku melewati waktuku oleh berbagai penolakan. Aku pernah mendekap lama senyum Mawar sebelum aku menemukan Mawar lain, kamu. Aku mencari berbagai alasan untuk meninggalkan bayang-bayang Mawar lamaku, aku memacu motor kemanapun ia suka. Aku mencari diriku, menghapus kisah lama, berpetualang dengan para gadis jalang. Aku menjalani kisah hampa percintaan dengan bunga-bunga yang kutemukan di pinggir jalan, aku menari riang bersama mereka, berdendang tanpa tujuan. Hingga akhirnya aku menemukan setetes kesucian, kusebutnya Melati. Namun Kandas, cintaku lebih sakit dari yang sebelumnya. Hingga akhirnya kau datang, mengobati luka dengan goresan duri yang juga melukai. Aku berpetualang indah denganmu, meski hatimu entah kemana. Kau terlihat lusuh kala menjemputku. AKu melihat jalan cerita kita sama. Kau melewati berbagai petualangan cinta yang menyenangkan, juga menyakitkanmu. Kau mencari diri, melepaskan kendali atas dirimu, dan membiarkan dirimu melampiaskan segala kesakitan yang pernah kau alami terhadap orang lain. Aku pun demikian halnya. Aku tau, jalan pikiran kita sangatlah berbeda, namun ada kesamaan tujuan antara kita. Kau menggelembungkan prinsip seolah mengejek mereka yang pernah menolakmu. Sahabatku, yang di daratan seberang jauh, aku, aku kehilangan diri. Aku kembali pada Melati dengan dalih mencintaimu. Aku menyebar cinta pada tiap wanita, aku kehilangan diriku sebenarnya. Di manakah sikapku yang selalu dikelilingi pikiran-pikiran ideal untuk memuliakan wanita, di mana aku yang selalu ingin menghargai perasaan wanita, di mana aku yang dulu? Aku menebar harapan pada setiap wanita, kini. Aku terlihat kusam olehmu, juga mereka. Kau, kau pun demikian hal-nya dimata lelaki, terlebih di mataku. Tadi siang kau memanggilnya dengan sebutan sayang berkali-kali dihadapanku, di depan umum. Dan aku meresponnya dengan merayu Melati bermesra. Aku mengotori diriku dengan hal itu, aku menyadarinya. Aku hilang kendali, hilang, tak pernah tau kapan dan dimana aku berada. Aku yang sekarang sangat berbeda dengan idealisku, denganku yang dulu. Aku yang sekarang dikendalikan oleh amarah, amarah akan penolakan yang tidak kusadari. Aku menghamburkan cintaku. Tanpa tau alasan kuat untuk membenarkan hal itu.
Mawar, mawar lamaku . . . dimana layu warna ungumu kau kubur?
Mawar, mawar jalang . . .  kapan terhenti gundahmu?
Mawar, mawar kuningku . . . kemana senyum rekahmu berlabuh?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar