Laman

Sabtu, 06 April 2013

Keaslian dan Kepalsuan



Dalam perenungan di sebuah tempat yang keruh oleh ilusi-ilusi. Kenyataan masa lalu terkirim ulang oleh hembusan angin ketidaksengajaan. Antara ketulusan yang mengirama dengan kebencian yang tersembunyi oleh waktu, tak sedikitpun dapat terbedakan, karena batas-batas pemisah antara keduanya telah tercabut oleh senyuman hangat yang selalu sama dan berulang.

Kenyataan masa kini yang bias akan cahaya-cahaya kepalsuan, semakin merebak dalam jiwa yang haus akan kesejatian. Dan harapan akan datangnya pemikiran yang jernih tentang sebuah ilusi yang kotor semakin menjauh menuju kegelapan malam. Pedang tajam yang seharusnya menjadi pemisah antara keaslian dan kepalsuan pun patah tak berbentuk, hancur tergilas sang waktu.

Sementara dendangan musik kepedihan yang terbungkus oleh keceriaan yang dibuat-buat semakin menggila. Alunan pemujaan terhadap ilusi bintang-bintang malam semakin hari semakin keras diperdengarkan. Bulan yang dulu menyimpan cahaya terang, seakan redup karena tergilas tawa bintang yang penuh kepalsuan. Dan kini menjauhlah jiwa-jiwa kosong dari cahaya yang sejati.

Mata yang semakin buta akan gemilangnya cahaya palsu nan terang, mengacaukan tatanan kesejatian jiwa yang selalu menuntun mereka saat kegelapan tiba. Tak sedikit diantaranya yang terjebak dalam gua indah yang penuh akan kedustaan ilusi. Dan saat terkurung dalam gua, akan semakin sulit melawan segala ilusi khayal yang di dalamnya tertanam kepedihan yang tersembunyi dalam bingkai keegoisan.

Mungkin di masa ini, tawa penghinaan dari makhluk penyesat semakin riuh terdengar oleh hati yang masih menyimpan sedikit cahaya Ilahi. Mereka seakan berpesta merayakan kemenangan ilusi cahaya hitam. Tak berhenti sampai di situ, malam-malam pun tlah mereka penuhi dengan kekhawatiran yang tertutupi oleh senyuman palsu. Dan serpihan pedang pemisah yang kemarin tergilas waktu tlah mereka buang dalam jurang kesunyian yang teramat dalam.

Nurani yang masih mampu berpikir jernih tentang ilusi, selalu mencoba meraih dan menemukan pedang pemisah itu. Memang sangat sulit dan terasa sangat mustahil. Namun, dengan keyakinan  yang kuat akan datangnya keajaiban menyertai perjalanannya mengarungi jurang kesunyian. Mereka mendaki terjalnya gunung keangkuhan, menuruni jurang kesunyian yang di dalammnya terdapat banyak sekali jebakan yang mungkin bisa saja menghanyutkan mereka dalam lembah keputusasaan. Bertahun-tahun mereka bertapa merenungi penciptaan atas dirinya. Memohon pada Sang Pencipta agar segera ditemukan jalan yang mengantarkannya temukan pedang pemisah yang hilang terbuang di masa silam.

Akhirnya nurani yang berjuang keras, tlah menemukan apa yang mereka cari. Dan waktu pun ikut tersenyum haru melihat wajah nurani yang terlihat cerah. Namun setelah beberapa detik berlalu dari tempat kesunyian, mendung kembali menyelimuti nurani. Potongan pedang pemisah sudah hanya tinggal sebesar genggaman saja. Sementara yang lain entah kemana. Langit pun turut menangis melihat kesedihan nurani. Petir-petir menyambar mengikuti irama kepiluan, mereka menggelegar mencoba menerka jawaban atas perenungan. Sapuan angin semakin kencang menyeret puing-puing kegalauan. Dan semua itu terhenti begitu pelangi muncul memberikan harapan akan datangnya jawaban tentang tanya malam. Alam pun kembali menyuarakan ketenangan yang mungkin hanyalah sesaat. Kini potongan pedang pemisah yang tumpul dan tak berbentuk, kembali diperbaiki oleh para penganut nurani dari Sang Ilahi. Mereka terus-menerus mengasah hingga tajamnya kembali bisa memisahkan antara kepalsuan dan keaslian, antara ketulusan dan kebencian.

Di tempat lain yang penuh dengan ritual pemujaan terhadap ilusi cahaya, dentangan syair kegelisahan mulai dirasakan oleh sebagian jiwa yang di dalamnya terdapat dua kubu yang saling bertentangan. Dalam diri mereka mulai timbul konflik, antara yang ingin tetap memuja ilusi yang terbungkus keindahan dengan yang ingin segera menemukan kesejatian lantunan keaslian nurani. Konflik jiwa yang semakin bergejolak dengan munculnya provokator dari banyak pihak yang saling berseberangan membuat suasana semakin memanas. Perang argumentasi seakan tak pernah berujung.

 Di tengah keadaan yang penuh kerusuhan dan kebimbangan yang menggelora, suara-suara kegalauan yang menyesatkan muncul sebagai pahlawan hitam yang terselubung. Perang pun memuncak hingga memunculkan dualisme dalam diri mereka yang terlanjur terjebak dalam gua ilusi tersebut.

Gambar : persfektif kupu-kupu-diambil dari google

Kaum minoritas dalam peperangan tak berkesudahan di wilayah rongga dada dari jiwa-jiwa yang tersesat ini, sepertinya telah tersudutkan oleh serangan gabungan dari pihak yang memuja ilusi. Lalu mereka bersembunyi di balik sinar abadi yang hanya dimiliki Zat Maha Agung di sana.Namun bagaimanapun juga, kekhawatiran pun tetap muncul beriringan dengan persediaan senjata yang mulai menipis. Sementara kekuatan di pihak pemuja ilusi semakin besar dengan bergabungnya ribuan pasukan makhluk penyesat. Kondisi yang membuat pasukan pro nurani semakin tak kuasa menahan kedatangan rasa khawatir yang mulai membesar dalam jiwa mereka.

Dalam kondisi yang keruh ini, para pembela kesejatian nurani mulai terlihat dari kejauhan dengan membawa pedang pemisah yang baru saja mereka temukan. Panji-panji keaslian mulai dikobarkan di dalam tubuh yang di dalamnya penuh konflik ini. Kaum minoritas yang sebelumnya dihinggapi kekhawatiran yang luar biasa, mulai berani muncul dari persembunyian. Kekuatan kembali berimbang antara kedua belah pihak.

Babak baru pun telah dimulai. Sang waktu bertindak sebagai pengadil dan juga saksi abstrak dalam pertempuran ini. Kekacauan dalam tubuh semakin parah dan menimbulkan penyakit kemalasan yang amat memilukan sendi-sendi kehidupan organisme yang hidup di dalamnya. Pergolakan jiwa yang tak terhindari mengakibatkan kerusakan pada mekanisme dalam tubuh yang sebelumnya tenteram dengan keramahan yang terlindung oleh keaslian. Kaum minoritas yang pro nurani belum juga mampu mengalahkan para pemuja ilusi, keselamatan seluruh rakyat dalam tubuh yang ada dalam genggaman kaum pro nurani pun semakin terancam.

Dalam ketidakpastian yang tlah lama menghantui sendi-sendi ketentraman dalam jiwa ini, muncul cahaya terang dari balik gelapnya kehampaan. Angin kedamaian meniup sepoi-sepoi menyejukkan mereka yang mulai yakin akan datangnya kesejatian. Kepalsuan cahaya  ilusi pun agak sedikit meredup menuju persemayaman. Pasukan pro nurani yang tlah menemukan senjatanya memaksa para pemuja ilusi untuk mundur dan mengangkat bendera putih. Namun, kegigihan suara penyesat tak lantas hilang begitu saja. Mereka semakin gencar membalas serangan pasukan nurani dengan mengumandangkan bisikan syair kusam yang terbungkus keindahan dan simphony nan merdu.

Alunan-alunan kepalsuan menolak untuk menyerah begitu saja. Mereka pun terbangun dan menemukan senjata baru tuk membujuk jiwa-jiwa yang masih kosong. Pasukan pemuja ilusi bertambah banyak dari sebelumnya. Mereka tak gentar sedikitpun dengan benteng ilusinya yang semakin membesar. Begitu pula dilakukan para pasukan pro nurani yang penuh keyakinan setelah keterpurukan mereka kemarin. Mereka bergerak dengan iringan lagu harmoni dari Sang Pemilik Segala Suara yang menyerukan kedamaian sesungguhnya. Malaikat pembimbing memimpin mereka dalam pertempuran yang seakan tak berujung ini. Dan memanglah benar, keaslian dan kepalsuan akan terus bertempur mengisi waktu hingga kelak jiwa dan nafas dalam tubuh itu dipanggil oleh-NYA. Sehingga medan tempur mereka tlah musnah termakan cacing dalam tanah. Dan penentuan tentang pemenangnya akan dilaksanakan di peradilan yang Maha Adil. Yang kebenaran haqiqi adalah menjadi acuan dalam penetapanNYA. Tanpa intrik, ataupun semua kekotoran lainnya. Sehingga keaslian dan kepalsuan terpisah oleh alam yang berbeda, surga dan neraka. [] 

-Rizky-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar