TUGIEZLAND

Sabtu, 06 April 2013

Singgasana Melati


*)Untuk seseorang. Untuk indahnya pandangan pertama, juga perihnya penolakan. Untuk manisnya sapaan, juga angkuhnya singgasana...

kudekap erat melati dalam pelukan mimpi
Harumnya menebar ruangan jiwa
Menyeret langkah dalam jalanan berbatu yang terasa empuk kala ditapaki
Kaki yang tak menyadari krikil tajam melukai
Dan darah-darah menetes
Seperti jatuhnya dedaunan kering setiap waktu, tanpa disadari pohon
Dan tetesan darah yang menyentuh tanah, menyuburkan rasa
Rasa yang mereka sebut cinta

Sementara dalam malam-malam yang penuh kepalsuan bulan
Melati menebarkan wangi ke semesta akal dan nurani
Terduduk penuh angkuh di atas singgasana
Para bintang tak pernah menyadari semua itu
Karena aroma asap yang ditebarkan melati menyesakkan pernafasan akal
Dunia malam yang penuh kepalsuan

Bintang lugu masih berdendang ceria
Menari-nari mengagungkan melati
Mereka lantas memuja sedemikian khusyu’ dan romantis
Lantas mereka junjung melati beserta singgasananya

Dalam kegelapan kabut asap, hitam-putih tak terlihat jelas
Diam-diam melati meloncat keluar dari singgasananya
Ia menyelinap melalui kegelapan yang tak disadari para bintang
Berlari tenang menjauhi kerumunan para bintang
Setenang tubuh angsa di atas sungai, yang kakinya bergejolak dalam air
Ia mencari singgasana baru yang entah dimana
Tak pernah puas dengan mahkotanya

Sementara saat cahaya menampakkan sinar aslinya
Bintang-bintang meratap kekecewaan
Mereka baru saja menyadari, kakinya tertancap perih yang mendalam
Yang mereka tinggi-tinggikan selama ini hanya sebuah singgasana
Singgasana kosong tak berpenghuni
Yang mereka idam-idamkan hanyalah mimpi
Dan saat mereka sadari, mimpi itu tlah pergi
Itulah yang mereka perebutkan
Tak lain hanya pepesan kosong, melati mengecewakan

-Rizky-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar