*)Untuk seseorang.
Untuk indahnya pandangan pertama, juga perihnya penolakan. Untuk manisnya
sapaan, juga angkuhnya singgasana...
kudekap erat
melati dalam pelukan mimpi
Harumnya
menebar ruangan jiwa
Menyeret
langkah dalam jalanan berbatu yang terasa empuk kala ditapaki
Kaki yang
tak menyadari krikil tajam melukai
Dan
darah-darah menetes
Seperti
jatuhnya dedaunan kering setiap waktu, tanpa disadari pohon
Dan tetesan
darah yang menyentuh tanah, menyuburkan rasa
Rasa yang
mereka sebut cinta
Sementara
dalam malam-malam yang penuh kepalsuan bulan
Melati
menebarkan wangi ke semesta akal dan nurani
Terduduk
penuh angkuh di atas singgasana
Para bintang
tak pernah menyadari semua itu
Karena aroma
asap yang ditebarkan melati menyesakkan pernafasan akal
Dunia malam
yang penuh kepalsuan
Bintang lugu
masih berdendang ceria
Menari-nari
mengagungkan melati
Mereka
lantas memuja sedemikian khusyu’ dan romantis
Lantas
mereka junjung melati beserta singgasananya
Dalam
kegelapan kabut asap, hitam-putih tak terlihat jelas
Diam-diam
melati meloncat keluar dari singgasananya
Ia
menyelinap melalui kegelapan yang tak disadari para bintang
Berlari tenang
menjauhi kerumunan para bintang
Setenang
tubuh angsa di atas sungai, yang kakinya bergejolak dalam air
Ia mencari
singgasana baru yang entah dimana
Tak pernah
puas dengan mahkotanya
Sementara
saat cahaya menampakkan sinar aslinya
Bintang-bintang
meratap kekecewaan
Mereka baru
saja menyadari, kakinya tertancap perih yang mendalam
Yang mereka
tinggi-tinggikan selama ini hanya sebuah singgasana
Singgasana
kosong tak berpenghuni
Yang mereka
idam-idamkan hanyalah mimpi
Dan saat
mereka sadari, mimpi itu tlah pergi
Itulah yang
mereka perebutkan
Tak lain
hanya pepesan kosong, melati mengecewakan
-Rizky-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar