“Jangan
sesekali pergi ke kandang ayam, jika kau tak ingin kusebut
ayam...hahaha” kata Paijo mennghalangi niatku untuk memberi makan
ayam-ayamku. Aku tak menggubris sama sekali. Usai memberi makan
ayam, aku baru ingat, Paijo sepertinya meledekku – ia masih
tersinggung mungkin dengan kata-kataku kemarin. Kemarin, saat aku
hendak tidur, Paijo justru keluar rumah. Jam dinding kulihat sudah
menunjuk angka 11 malam. Aku heran melihat tingkahnya, nggak
biasanya ia keluar malam. Penyakit kepo-ku
kambuh, aku tak kuat menahan untuk bertanya “mau kemana Jo
malam-malam gini?” Paijo diam saja, sejurus kemudian ia baru
menjawab dengan nada endhel
khas banci di bundaran Waru “ihh...mau tau aja sih jeng” –
“Ah dia makin aneh saja” pikirku. Aku terus bertanya dan ia masih
saja berbelit-belit. Dan setelah lama kudesak, mungkin ia s
meladeniku – ia akhirnya menjawab dengan nada ketus “mau ke
Dolly, kau mau ikut? Puaasss!!!” Aku kaget, ternyata si Paijo yang
selalu rajin sholat itu mau juga ke tempat begituan. “Hah..!! mau
begituan juga toh? hahaha...” cerucusku. Ia tak menggubris dan
berlalu pergi.
Paginya
aku masih saja meledeknya, tapi ia hanya diam saja – mimik wajahnya
datar, tak terlihat mangkel,
tak terlihat mesem, tak juga terlihat ingin menyangkal, pokoknya dia
tak menggubrisku. Dan akhirnya aku hanya diam. Lama-lama jadi tak
enak sendiri terus-terusan meledeknya, kami berdua pun hanya
menikmati kesunyian.
“kamu
bener Jo tadi malam pergi ke Dolly?” Tanyaku memecah sunyi pagi
“Iya”
jawabnya ketus
“Kamu
njajan
Jo?”
“Iya”
“Hah?!
Kamu njajan?”
tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan
“Iya,
memangnya kenapa?” jawabnya datar
“Ya
ndak
gitu Jo, kupikir kamu itu orang alim, tiap hari selalu rajin sholat,
tapi ternyata kamu mau juga ngelakuin
begituan?”
“Lah
memangnya kenapa kalau aku njajan,
aku njajan
onde-onde di Dolly, apa salah? Duit, duitku sendiri kok”
“Heh...?
bukan njajan
yang itu maksudku, bukan onde-onde, Jo?!!”
“Lah
terus apa? Njajan
cewek maksudmu?”
“Iya
Jo, ke Dolly apalagi kalau bukan njajan
cewek?”
“Lah
memang di Dolly cuma ada penjual cewek saja? Apa yang dodolan
onde-onde gak boleh ada disana? Begitu maksudmu?”
“Yah
ndak
begitu Jo, masak beli onde-onde saja sampai jauh-jauh ke Dolly, Apa
di Krian gak ada?”
“Lah
memang kenapa? Orang pengen
beli di sana sambil jalan-jalan kok. Toh kamu kemarin gak mau diajak?
Apa kau kira aku sering terlihat sholat itu berarti aku orang alim,
gitu? Bisa saja aku justru atheis toh? Kamu kan gak tau apa yang ada
di dalam hatiku?”
“Yah
setidaknya kalau kau kumpul orang alim, atau sering terlihat
melakukan apa yang dilakukan orang alim – kamu kan dipandang alim,
Jo, begitupun sebaliknya.”
“Itu
kan biasanya, bukan pastinya? Apa semangka selalu manis, Ndak
toh? Apa kiai Baseso itu alim, karena sepanjang hidupnya ia rajin
sholat – lalu meninggal dalam keadaan bunuh diri, begitu?”
“Yo
bukan begitu juga Jo, dengan begitu kau menghilangkan hukum
kepastian, bahwa gula itu manis, dan garam itu asin. Kalau kau datang
ke tempat lacur, sudah pasti kau melacur – atau setidaknya kau
sudah berniat melihat pemandangan tubuh indah pelacur. Kalau kau
pergi ke masjid, sudah dipastikan kau hendak sholat, iya toh?”
“Itu
kan hukum kebiasaan, bukan kepastian – kalau garam itu asin memang
hukum kepastian. Tapi kalau yang terakhir tadi – yang tau pasti
niat orang siapa? Apa kamu bisa memprediksi apa yang ada di dalam
hatiku, ndak
toh? Kalau aku pergi ke masjid – apa kau lantas mengira aku akan
sholat? Apa kau tau niatanku sesungguhnya? Bisa saja aku pergi ke
masjid berniat untuk mencuri sandal toh? Apa kalau aku sholat, kau
menyebutku orang islam? Bisa saja aku nonmuslim yang sedang menyamar
untuk mengebom masjid, gerakan sholat kan mudah sekali untuk ditiru
toh? Kalau aku sering cangkruk
dengan para preman,
apa kau sebut aku sebagai
preman? Kalau aku –
sebagai mahasiswa, berkaca untuk mendapat nasehat pada para praktisi
yang telah berhasil melalui proses kemahasiswaannya, dan praktisi itu
bilang bahwa mahasiswa itu seharusnya belajar dulu bukan hanya
menyalahkan saja, lantas aku sebagai mahasiswa – menilai diriku
sendiri dari pandangan praktisi itu sebagai introspeksi di hadapan
para mahasiswa, apa kau akan mengatakan bahwa aku telah menghina
mahasiswa?”
“Ya
memang kita nggak tau apa yang ada di hati seseorang, tapi kita kan
bisa memprediksinya dari kebiasaan-kebiasaan yang lalu, bahwa kalau
mendung itu tandanya akan segera hujan?”
“Iya,
kau memang benar. Tapi kita kan cuma bisa memprediksi kebiasaan,
bukan kepastian. Apa kalau mendung sudah pasti hujan, beranikah kau
memastikan itu?”
Akhirnya
aku hanya terdiam saja, aku tak kuasa lagi meladeni lulusan
Universitas Kritikcospleng ini. Betapapun aku ngeyel,
dia akan tetap ngeyel.
Aku hanya menimbang-nimbang lagi jawaban-jawaban ngeyel
Paijo ini. Sepanjang hari aku tak selera lagi melakukan apa-apa –
termasuk makan, aku hanya memikirkan kata-kata Paijo. Sore hariku
kututup dengan mencari bacaan koleksi lamaku yang tersimpan di
laptop, aku temukan kumpulan kisah Nasrudin Hoja. Salah satu kisahnya
yakni saat ia tak diacuhkan oleh seorang pun di suatu pesta karena
pakaian yang ia kenakan compang-camping, lusuh, nggembel.
Karena tak diacuhkan, ia pulang lagi dan berganti pakaian yang bagus.
Kali ini ia diacuhkan dan dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang
telah disediakan. Namun Nasrudin tidak memakannya dan justru
memasukkan makanan dan minuman ke dalam saku baju bagusnya itu.
Orang-orang pun heran dengan apa yang ia lakukan dan bertanya padanya
kenapa ia lakukan itu. Nasrudin hanya menjawab : “yang diundang
bukan aku, tapi pakaianku. Jadi, yang berhak makan dan minum adalah
pakaianku.”
Aku
membaca kisah itu berulang-ulang di sore yang merisaukanku ini. Aku
menghubung-hubungkannya dengan kata-kata Paijo tadi, aku merenunginya
– ternyata selama ini aku melihat orang sebatas dari bajunya, dari
kegiatan fisik yang ia lakukan, dari esensinya yang hanya bersifat
artifisial saja, bukan dari substansinya. Padahal, jika dicermati –
apa yang kupikir sebagai sesuatu yang negatif, pasti memiliki segi
postif, begitupun sebaliknya. Tinggal bagaimana menyikapiya untuk
memilah mana baik-buruknya.
Paijo
juga mengingatkanku pada teori perubahan Kurt Lewin yang baru saja
kuketahui. Bagimu yang pernah ikut kelas Manajemen SDM atau
setidaknya pernah membaca buku-buku Manajemen SDM ataupun buku-buku
pengembangan diri, tentu tak asing lagi dengan teori ini. Menurut
Lewin, perubahan bisa terjadi pada organisasi dengan melalui tahap:
Unfreezing, Moving,
Freezing. Unfreezing
adalah tahap mencair, dimana organisasi meleburkan diri untuk
beradaptasi dengan lingkungan. Sementara Moving adalah tahap
pengembangan, pencarian strategi untuk bisa sinkron dengan jiwa
organisasi. Dan freezing adalah tahap pembekuan, dimana organisasi
telah menemukan strategi yang pas untuk diterapkan dan sesuai
perkembangan lingkungan. Aku baru sadar bahwa ternyata Paijo jauh
sebelumnya telah menerapkan teori ini pada dirinya, sementara aku
masih baru saja sebatas tahu – belum sedikitpun memahami. Paijo
membaur dengan banyak lingkingan – termasuk lingkungan yang
menurutku negatif. Tapi ia mengambil berbagai sisi positif untuk
mengembangkan dirinya. Aku tertinggal jauh darinya – ia ternyata
jauh lebih memahami meski selama ini aku memandangnya sebagai orang
yang nyleneh, menyun,
gendheng. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar