Laman

Senin, 01 April 2013

Paijo ‘Njajan’ Onde-Onde (Unfreezing-nya Paijo)


Jangan sesekali pergi ke kandang ayam, jika kau tak ingin kusebut ayam...hahaha” kata Paijo mennghalangi niatku untuk memberi makan ayam-ayamku. Aku tak menggubris sama sekali. Usai memberi makan ayam, aku baru ingat, Paijo sepertinya meledekku – ia masih tersinggung mungkin dengan kata-kataku kemarin. Kemarin, saat aku hendak tidur, Paijo justru keluar rumah. Jam dinding kulihat sudah menunjuk angka 11 malam. Aku heran melihat tingkahnya, nggak biasanya ia keluar malam. Penyakit kepo-ku kambuh, aku tak kuat menahan untuk bertanya “mau kemana Jo malam-malam gini?” Paijo diam saja, sejurus kemudian ia baru menjawab dengan nada endhel khas banci di bundaran Waru “ihh...mau tau aja sih jeng” – “Ah dia makin aneh saja” pikirku. Aku terus bertanya dan ia masih saja berbelit-belit. Dan setelah lama kudesak, mungkin ia s meladeniku – ia akhirnya menjawab dengan nada ketus “mau ke Dolly, kau mau ikut? Puaasss!!!” Aku kaget, ternyata si Paijo yang selalu rajin sholat itu mau juga ke tempat begituan. “Hah..!! mau begituan juga toh? hahaha...” cerucusku. Ia tak menggubris dan berlalu pergi.

Paginya aku masih saja meledeknya, tapi ia hanya diam saja – mimik wajahnya datar, tak terlihat mangkel, tak terlihat mesem, tak juga terlihat ingin menyangkal, pokoknya dia tak menggubrisku. Dan akhirnya aku hanya diam. Lama-lama jadi tak enak sendiri terus-terusan meledeknya, kami berdua pun hanya menikmati kesunyian.

kamu bener Jo tadi malam pergi ke Dolly?” Tanyaku memecah sunyi pagi

Iya” jawabnya ketus

Kamu njajan Jo?”

Iya”

Hah?! Kamu njajan?” tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan

Iya, memangnya kenapa?” jawabnya datar

Ya ndak gitu Jo, kupikir kamu itu orang alim, tiap hari selalu rajin sholat, tapi ternyata kamu mau juga ngelakuin begituan?”

Lah memangnya kenapa kalau aku njajan, aku njajan onde-onde di Dolly, apa salah? Duit, duitku sendiri kok”

Heh...? bukan njajan yang itu maksudku, bukan onde-onde, Jo?!!”

Lah terus apa? Njajan cewek maksudmu?”

Iya Jo, ke Dolly apalagi kalau bukan njajan cewek?”

Lah memang di Dolly cuma ada penjual cewek saja? Apa yang dodolan onde-onde gak boleh ada disana? Begitu maksudmu?”

Yah ndak begitu Jo, masak beli onde-onde saja sampai jauh-jauh ke Dolly, Apa di Krian gak ada?”

Lah memang kenapa? Orang pengen beli di sana sambil jalan-jalan kok. Toh kamu kemarin gak mau diajak? Apa kau kira aku sering terlihat sholat itu berarti aku orang alim, gitu? Bisa saja aku justru atheis toh? Kamu kan gak tau apa yang ada di dalam hatiku?”

Yah setidaknya kalau kau kumpul orang alim, atau sering terlihat melakukan apa yang dilakukan orang alim – kamu kan dipandang alim, Jo, begitupun sebaliknya.”

Itu kan biasanya, bukan pastinya? Apa semangka selalu manis, Ndak toh? Apa kiai Baseso itu alim, karena sepanjang hidupnya ia rajin sholat – lalu meninggal dalam keadaan bunuh diri, begitu?”

Yo bukan begitu juga Jo, dengan begitu kau menghilangkan hukum kepastian, bahwa gula itu manis, dan garam itu asin. Kalau kau datang ke tempat lacur, sudah pasti kau melacur – atau setidaknya kau sudah berniat melihat pemandangan tubuh indah pelacur. Kalau kau pergi ke masjid, sudah dipastikan kau hendak sholat, iya toh?”

Itu kan hukum kebiasaan, bukan kepastian – kalau garam itu asin memang hukum kepastian. Tapi kalau yang terakhir tadi – yang tau pasti niat orang siapa? Apa kamu bisa memprediksi apa yang ada di dalam hatiku, ndak toh? Kalau aku pergi ke masjid – apa kau lantas mengira aku akan sholat? Apa kau tau niatanku sesungguhnya? Bisa saja aku pergi ke masjid berniat untuk mencuri sandal toh? Apa kalau aku sholat, kau menyebutku orang islam? Bisa saja aku nonmuslim yang sedang menyamar untuk mengebom masjid, gerakan sholat kan mudah sekali untuk ditiru toh? Kalau aku sering cangkruk dengan para preman, apa kau sebut aku sebagai preman? Kalau aku – sebagai mahasiswa, berkaca untuk mendapat nasehat pada para praktisi yang telah berhasil melalui proses kemahasiswaannya, dan praktisi itu bilang bahwa mahasiswa itu seharusnya belajar dulu bukan hanya menyalahkan saja, lantas aku sebagai mahasiswa – menilai diriku sendiri dari pandangan praktisi itu sebagai introspeksi di hadapan para mahasiswa, apa kau akan mengatakan bahwa aku telah menghina mahasiswa?”

Ya memang kita nggak tau apa yang ada di hati seseorang, tapi kita kan bisa memprediksinya dari kebiasaan-kebiasaan yang lalu, bahwa kalau mendung itu tandanya akan segera hujan?”

Iya, kau memang benar. Tapi kita kan cuma bisa memprediksi kebiasaan, bukan kepastian. Apa kalau mendung sudah pasti hujan, beranikah kau memastikan itu?”

Akhirnya aku hanya terdiam saja, aku tak kuasa lagi meladeni lulusan Universitas Kritikcospleng ini. Betapapun aku ngeyel, dia akan tetap ngeyel. Aku hanya menimbang-nimbang lagi jawaban-jawaban ngeyel Paijo ini. Sepanjang hari aku tak selera lagi melakukan apa-apa – termasuk makan, aku hanya memikirkan kata-kata Paijo. Sore hariku kututup dengan mencari bacaan koleksi lamaku yang tersimpan di laptop, aku temukan kumpulan kisah Nasrudin Hoja. Salah satu kisahnya yakni saat ia tak diacuhkan oleh seorang pun di suatu pesta karena pakaian yang ia kenakan compang-camping, lusuh, nggembel. Karena tak diacuhkan, ia pulang lagi dan berganti pakaian yang bagus. Kali ini ia diacuhkan dan dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Namun Nasrudin tidak memakannya dan justru memasukkan makanan dan minuman ke dalam saku baju bagusnya itu. Orang-orang pun heran dengan apa yang ia lakukan dan bertanya padanya kenapa ia lakukan itu. Nasrudin hanya menjawab : “yang diundang bukan aku, tapi pakaianku. Jadi, yang berhak makan dan minum adalah pakaianku.”

Aku membaca kisah itu berulang-ulang di sore yang merisaukanku ini. Aku menghubung-hubungkannya dengan kata-kata Paijo tadi, aku merenunginya – ternyata selama ini aku melihat orang sebatas dari bajunya, dari kegiatan fisik yang ia lakukan, dari esensinya yang hanya bersifat artifisial saja, bukan dari substansinya. Padahal, jika dicermati – apa yang kupikir sebagai sesuatu yang negatif, pasti memiliki segi postif, begitupun sebaliknya. Tinggal bagaimana menyikapiya untuk memilah mana baik-buruknya.

Paijo juga mengingatkanku pada teori perubahan Kurt Lewin yang baru saja kuketahui. Bagimu yang pernah ikut kelas Manajemen SDM atau setidaknya pernah membaca buku-buku Manajemen SDM ataupun buku-buku pengembangan diri, tentu tak asing lagi dengan teori ini. Menurut Lewin, perubahan bisa terjadi pada organisasi dengan melalui tahap: Unfreezing, Moving, Freezing. Unfreezing adalah tahap mencair, dimana organisasi meleburkan diri untuk beradaptasi dengan lingkungan. Sementara Moving adalah tahap pengembangan, pencarian strategi untuk bisa sinkron dengan jiwa organisasi. Dan freezing adalah tahap pembekuan, dimana organisasi telah menemukan strategi yang pas untuk diterapkan dan sesuai perkembangan lingkungan. Aku baru sadar bahwa ternyata Paijo jauh sebelumnya telah menerapkan teori ini pada dirinya, sementara aku masih baru saja sebatas tahu – belum sedikitpun memahami. Paijo membaur dengan banyak lingkingan – termasuk lingkungan yang menurutku negatif. Tapi ia mengambil berbagai sisi positif untuk mengembangkan dirinya. Aku tertinggal jauh darinya – ia ternyata jauh lebih memahami meski selama ini aku memandangnya sebagai orang yang nyleneh, menyun, gendheng. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar