TUGIEZLAND

Sabtu, 06 April 2013

Nglindur


Beruntung Paiman baru pulang hari ini, kalau ia pulang kemarin pasti sudah ngguyu ngakak melihatku diceramahi Paijo gara-gara soal njajan onde-onde. Biasanya kalau ia yang diceramahi Paijo, aku selalu ngakak. Paiman baru saja pulang dari pertemuan mbambung internasional di pulau Nusambambung. Paiman sangat semangat bercerita padaku tentang pertemuan itu, tanpa disuruh ia langsung mengeluarkan lembaran-lembaran dalam kardus yang ia bawa. Kupikir isi kardus itu tadi untuk dikilokan, tapi ternyata tidak – ia membacanya. Tak biasanya ia semangat seperti ini, biasanya ia hanya murung saja, sesekali cari kardus, bekas botol air kemasan, atau apapun saja untuk dirosokkan dan mendapat uang untuk makan, selebihnya kalau tak lapar ia tak melakukan apa-apa selain murung.

Dunia tak berujung.. dimana keaslian, mana kepalsuan.. O, sangkakala .. kapan ia berbunyi, kenapa ku disini..” Paiman membaca cuplikan puisi itu dengan keras, suaranya menggebu seperti ada yang mengejarnya. “O, ternyata kumpulan puisi” pikirku, benar saja ia sangat semangat – dan lagi, puisi-puisi itu mungkin mempunyai kesamaan pandang dengan dirinya, ratapan para mbambung, Paiman mungkin menganggap pengarangnya senasib dengan dirinya.

Tapi lagi-lagi aku dibuat heran oleh kakak-beradik itu, sikap mereka sangat aneh hari ini, jauh berbeda dari biasanya. Biasanya kalau melihat Paiman melakukan apapun, Paijo selalu mengkritiknya. Tapi hari ini ia hanya diam saja, duduk memojok, air muka dingin, mata menganga – pandangan kabur tak jelas. Aku hanya menebak-nebak, mungkin ia baru saja putus dengan pacarnya. O, tapi kan dia belum punya pacar? Mungkin habis dijambret orang di jalan. Tapi nggak mungkin ia bisa sesedih ini hanya karena dijambret, kan biasanya ia juga cangkruk dengan para penjambret – kalaupun dijambret itu temannya sendiri yang njambret, barang-barangnya bisa berpeluang untuk kembali, kan? Kalau begitu apa yang membuatnya sesedih itu?

Rasa nasionalisme Paijo begitu tinggi, sejak masih umur 4 tahunan ia selalu terbangun saat mendengar lagu Garuda pancasila yang diputar di TVRI usai berita malam, meski ia tengah tertidur lelap. Entah siapa yang membangunkannya, seperti orang yang nglindur – ia terbangun, melihat TV, lagunya habis, ia tidur lagi. Dan kesedihan Paijo hari ini mirip dengan ke-nglindurannya puluhan tahun lalu. Ia seperti orang nglindur yang tak sadar atas apa yang ia lakukan, sorot matanya menunjukkan kefrustasian yang mendalam. “Kalau dihubungkan dengan kebiasaan masa kecilnya itu, mungkin ia sedih oleh keadaan negerinya saat ini” pikirku.

Tapi kenapa ia sedih? Kan ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, ia terbiasa mengkritik kebobrokan-kebobrokan yang ada di negerinya, ia terbiasa berunjuk rasa di depan kantor-kantor pemerintahan, tapi kenapa baru sekarang ia sedih? O, jangan-jangan rasa nasionalisme-nya bukanlah murni karena rasa cinta pada negerinya, melainkan karena ego pribadi dan obsesinya. Ia sedih karena mulai merasa segala yang telah ia lakukan selama ini hanya sia-sia, tak mengubah kenyataan apapun – termasuk kenyataan hidupnya. Mungkin ia mulai menyadari bahwa apa yang ia lakukan selama ini adalah karena rasa frustasi terhadap keadaan dirinya sendiri dengan mengkambinghitamkan keadaan negerinya. Ia merasa tak mampu membeli apa-apa di negerinya, termasuk rasa aman. Ia tak mampu membiayai hidupnya sendiri dengan bekerja karena menurutnya segala sistem perekrutan di negerinya hanya abal-abal, kalaupun kerja, kerjanya juga abal-abal, ia tak mau kerja hanya karena alasan yang irasional, subyektif, absurd, kata keponakannya : alasan yang geje, dan menurutku alasan itu dibuat karena ia sebenarnya memang malas. Ia mau ngojek, tapi tak berani alasannya karena bisa saja di tengah jalan ia ditodong pisau dan diambil motornya – kalau cuma ditodong dan diambil motornya tak masalah, kalau dibunuh? Ia mau mbecak juga tak berani, takut kalau hanya menikmati rasa lelah karena penghasilannya selalu dipalak para preman, sekarang kan lagi musim premanwong tahanan di lapas saja bisa ditembak mati oleh ‘orang tak dikenal’ kok, wong kapolsek saja bisa dikeroyok massa kok, wong kantor walikota saja bisa dibakar kok. Tapi kan ia biasa cangkruk dengan para para maling, para jambret, para mafia, termasuk para preman juga, kenapa ia takut semua itu? ia kan bebas, tak punya kepentingan pada siapapun, kenapa mesti takut semua itu? Jangan-jangan secara sembunyi ia punya kepentingan yang besar dengan banyak orang-orang itu, makanya dia takut dan sekarang terlihat sangat frustasi. “Hei, kenapa dia tak ikut mbambung sama Paiman saja? Ah, dia terlalu gengsi untuk itu, sarajana kok mbambung”.

Paijo itu memang aneh, kakean gaya, snewen, kata Paiman kalau rasan-rasan denganku : arek iku asline goblok, ngaku-ngaku pinter. Paijo memang tak seperti adiknya – Paiman, yang hidup apa adanya, yang hanya mencari uang saat merasa lapar dengan mengais tumpukan sampah yang kiranya bisa dijual untuk didaur ulang, selebihnya ia tak melakukan apa-apa. Paiman tak terikat oleh konsep-konsep di sekitarnya, tak terikat cita-cita pribadinya, tak terikat rasa gengsi, pokoknya Paiman itu manusia hari ini, ia hidup di hari ini tanpa berpikir apa yang akan terjadi esok hari, tak suka mengenang masa lalu, tak punya pandangan apapun tentang masa depan, pantas ia disebut mbambung, bahkan lebih dari mbambung – karena orang mbambung pun sudah pasti punya harapan bahwa suatu saat ia tak lagi mbambung. Sementara Paijo jauh berkebalikan dengan semua yang ada pada adiknya. Ia suka mengenang kejadian indah di masa lalu, selalu punya impian akan masa depan, punya keinginan untuk menjadi apa, sekecil apapun kejadian di masa depan selalu ia ramalkan, sampai bagaimana ia menikahkan anaknya suatu saat – sudah terpikirkan jelas oleh Paijo, padahal dia saja belum nikah. Mau ketemu teman-teman premannya pun sudah dipikirkan, sampai-sampai ia pernah bilang padaku tentang keinginannya untuk mengorganisir para preman itu dengan tujuan menjadikan ‘preman yang berakhlak’ – “aneh” pikirku. Pokoknya hidup Paijo serba teratur. Dari kecil sudah punya jadwal pribadi yang ia susun sendiri, kapan ia mandi, makan, sekolah, mengerjakan PR, tidur siang, mengaji, dsb. Ia juga mengkoleksi folder-folder berisi arsip apa saja, dari foto hingga struk-struk pembelian yang menurutnya menyimpan sejuta kenangan unik. Tak seperti Paiman yang hidupnya belepotan sak karepe udhel’e.

“O, aku baru ingat, Paijo mungkin kesambet setan Dolly sehingga ia menjadi sedih tak karuan begini, kemarin dia kan baru dari sana. Tapi kalau melihat kengeyelannya saat menceramahiku kemarin kayaknya gak mungkin, dan Paijo kan biasa membaur dengan kehidupan seperti itu, biasa mengamati orang-orang seperti itu. Jadi apa yang membuatnya sedih?” pikirku menebak-nebak.

Paiman yang tengah bercerita dan sesekali membacakan puisi dihadapanku mendadak berhenti. Ia melihatku tak kosentrasi mendengar ceritanya. Paiman menyondongkan mukanya ke hadapanku, matanya tajam menatap mataku, aku jadi agak risih “Apa yang kau pikirkan?” katanya, aku diam sejenak “Ah, bukan apa-apa, kenapa berhenti, lanjutkan?” perintahku. Ia tak mau melanjutkan cerita, ia terus mendesakku “Apa yang kau pikirkan?” Akhirnya aku bilang padanya bahwa aku sedang heran melihat tingkah Paijo hari ini, kenapa dia murung begitu, gak seperti biasanya. “Kenapa tak langsung tanya saja ke Paijo, ayo kita hibur Paijo” ajaknya.

Aku dan paiman pun menghampiri Paijo, mendesaknya untuk mengungkapkan isi hatinya kenapa ia bisa sesedih itu. Setelah hampir seharian hanya diam, dan kami hampir putus asa merayunya – Paijo akhirnya mulai mau untuk mengungkapkan alasan kesedihannya hari ini. Ia sedih karena tadi malam ia nglindur saat tengah enak-enaknya tertidur, ia bermimpi ketemu mantan gadis idamannya yang sekarang lagi kuliah di sekolah tinggi kedokteran gigi di kota yang punya klub sepak bola dengan nama mirip nama seorang artis, kalau tak salah Dewi PERSIK. Gadis idaman yang sekarang tinggal kenangan, dan mimpi itu membuatnya kembali merasakan rasa sakit seperti saat dulu ia ditinggalkan disini tanpa jawaban. Dalam mimpinya gadis itu tersenyum dan melambaikan tangan padanya, lalu mendekatinya dan memeluknya erat. Sejenak kemudian gadis itu melepas pelukan, kemudian gadis itu berjalan menjauh dari Paijo, Paijo mengejarnya, tapi bayangan gadis itu lama-lama kabur dan menghilang begitu saja. Paijo terperanjat dari lelap tidurnya sambil masih memanggil-manggil nama gadis itu, tapi gadis itu hanya dalam mimpi – hilang oleh kenyataan. Paijo sedih setelah tersadar bahwa itu hanya mimpi, namun yang membuatnya lebih sedih, bayangan itu masih menghantui pandangannya sampai saat ini. “kenapa hanya dalam mimpi, bukan kenyataan” ungkapnya. Aku yang mendengar langsung alasan yang membuat Paijo sedih itu, menjadi iba dengannya dan juga malu dengan diriku sendiri karena ternyata semua dugaanku tadi salah, beruntung aku belum sempat ngrasani  bersama Paiman. “Hmm, memang tak baik menduga-duga, mending klarifikasi pada orangnya langsung” batinku. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar